Thursday, 16 May 2013

Kriteria orang Sholeh

 

Indahnya Pribadi Yang Sholeh

 
 Foto: ♥.•*•. ♥ (`'•.¸♥ ¸.•'´) ♥ .•*•.♥

˚•♥Indahnya  Pribadi  Yang Sholeh ♥•˚

♥.•*•. ♥ (`'•.¸♥ ¸.•'´) ♥ .•*•.♥

Assalamu’alaikum Warahmatullahi  Wabarakatuh

Sahabat saudaraku fillah...Sesungguhnya orang yang sholeh adalah orang yang menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya sehingga  memberi  manfaat  kebaikan dan tidak mengakibatkan kerusakan atau kemudharatan bagi diri  sendiri dan orang lain. Menjadi orang yang sholeh  merupakan hal yang amat penting bagi setiap muslim. Ada beberapa kriteria orang yang sholeh, yakni ;

1.Memiliki  iman yang benar

Meyakini bahwa  Allah sebagai  Rabb kita   dengan dibuktikan  dalam perkataan dan perbuatan yang baik sesuai dengan ketentuan Allah dan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. “ Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh ( berbuat ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera  ( mengerjakan ) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang sholeh.”( QS. Ali-Imran : 114 ).

2.Beramar makruf dan nahi mungkar

“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh ( berbuat ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali-Imran : 110).

Hal ini menunjukkan bahwa  menjadi orang yang sholeh tidak hanya bersifat pribadi artinya kita pun peduli terhadap orang lain dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana  usaha diri kita ingin menjadi orang yang sholeh.

3.Bersegera  melakukan kebaikan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengingatkan  agar kita segera melakukan kebaikan karena tidak  tahu apa yang akan terjadi esok hari dalam sabda beliau : “ Bergegaslah beramal ( mendahului datangnya ) fitnah –fitnah seperti  potongan-potongan malam yang gelap, pagi-pagi orang menjadi mukmin dan pada sore hari menjadi  kafir , dan sore menjadi mukmin dan pagi-pagi menjadi kafir, salah seorang mereka menjual agamanya dengan sedikit harta dunia.” ( HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi ).

4.Taat kepada Allah dan Rasul

Orang dikategorikan sholeh manakala mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah dicontohkan oleh Rasul-Nya. Ketika kita taat kepada Allah dan Rasul  akan dikelompokkan bersama dengan nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang –orang yang sholeh. “ Dan barangsiapa mentaati  Allah dan Rasul –Nya maka mereka itu akan bersama-sama  dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah(yaitu ) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”( QS.An-Nisa’ : 69).

Saudaraku..demikianlah betapa indahnya jika kita memiliki pribadi yang sholeh karena  tiap detik  kehidupan  ini  hanya diisi  dengan kebaikan  bukan hanya untuk diri namun juga bermanfaat bagi sesama. Semoga kita tergolong di dalamnya,aamiin.

Sahabat saudaraku fillah..silahkan ditag/share, silahkan saling bantu sahabat yang lain. Jazzakumullahu khayran wa barakallahu fiikum.

~ Salam santun erat silaturahmi dan ukhuwah fillah ~

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat saudaraku fillah...Sesungguhnya orang yang sholeh adalah orang yang menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya sehingga memberi manfaat kebaikan dan tidak mengakibatkan kerusakan atau kemudharatan bagi diri sendiri dan orang lain. Menjadi orang yang sholeh merupakan hal yang amat penting bagi setiap muslim. Ada beberapa kriteria orang yang sholeh, yakni ;

1.Memiliki iman yang benar

Meyakini bahwa Allah sebagai Rabb kita dengan dibuktikan dalam perkataan dan perbuatan yang baik sesuai dengan ketentuan Allah dan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. “ Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh ( berbuat ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera ( mengerjakan ) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang sholeh.”( QS. Ali-Imran : 114 ).

2.Beramar makruf dan nahi mungkar

“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh ( berbuat ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali-Imran : 110).

Hal ini menunjukkan bahwa menjadi orang yang sholeh tidak hanya bersifat pribadi artinya kita pun peduli terhadap orang lain dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana usaha diri kita ingin menjadi orang yang sholeh.

3.Bersegera melakukan kebaikan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengingatkan agar kita segera melakukan kebaikan karena tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari dalam sabda beliau : “ Bergegaslah beramal ( mendahului datangnya ) fitnah –fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap, pagi-pagi orang menjadi mukmin dan pada sore hari menjadi kafir , dan sore menjadi mukmin dan pagi-pagi menjadi kafir, salah seorang mereka menjual agamanya dengan sedikit harta dunia.” ( HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi ).

4.Taat kepada Allah dan Rasul

Orang dikategorikan sholeh manakala mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah dicontohkan oleh Rasul-Nya. Ketika kita taat kepada Allah dan Rasul akan dikelompokkan bersama dengan nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang –orang yang sholeh. “ Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul –Nya maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah(yaitu ) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”( QS.An-Nisa’ : 69).

Saudaraku..demikianlah betapa indahnya jika kita memiliki pribadi yang sholeh karena tiap detik kehidupan ini hanya diisi dengan kebaikan bukan hanya untuk diri namun juga bermanfaat bagi sesama. Semoga kita tergolong di dalamnya,aamiin.

Badai pasti berlalu

sangat menginspirasi.....

Seorang anak mengemudikan mobil bersama ayahnya.
Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi & berhenti.

“BAGAIMANA, Ayah? Kita berhenti?” Si Anak bertanya.

“Teruslah mengemudi !” kata Ayahnya

Anaknya tetap menjalankan mobil.

Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, BAHKAN ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraa-kendaraan besar juga mulai menepi & berhenti.

“Ayah…!?”

“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan. Anaknya tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan hanya berjarak beberapa meter saja. Si Anak mulai takut, namun tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, dirasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah mereka pada daerah yang kering dan matahari bersinar.

“SILAHKAN berhenti dan keluarlah”, kata Ayah.

“KENAPA sekarang?”, tanya sianak.

“Coba lihat kebelakang, agar kau bisa melihat seandainya kita tadi berhenti di tengah badai”.

Sang Anak berhenti dan keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai yang masih berlangsung.

Dia membayangkan orang-orang yang terjebak di sana. Dia baru mengerti bahwa jangan pernah berhenti ditengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian. Jika kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jangan berhenti dan putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus menakutkan.

Lakukan saja yang dapat kita lakukan, dan yakinkan diri bahwa DIA ada bersama kita, ingat bahwa BADAI PASTI BERLALU !

Amalan di malam Jum'at & hari Jum'at


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Al Baihaqi, shahih).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi, shahih).

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, disebutkan dalam hadits shahih, adalah :

Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa shallaita 'alaa Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim, innaka Hamiidum Majiid. Allahumma barik 'aala Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kama baarakta 'alaa Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim, innaka Hamiidum Majiid.

Mari kita amalkan. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya. Aamiin.


*Semoga Bermanfaat*

Kesunahan saat Minum

Ketika Minum, ada banyak point kebaikan, jika dilakukan sesuai Sunnah:

① Gunakan tangan kanan saat minum
② Duduk saat minum
③ Baca "Bismillaah" sebelum minum
④ Minum 3x tegukan dalam 1x nafas
⑤ Setelah selesai, baca "Al-Hamdulillah".

5 point, sudah 50 kebaikan إِنْ شَاءَ اللّهُ

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

"Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yaang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)" (QS. Al-An'aam: 160)

Memaknai Masalah dengan Bijak

 Foto: Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada
suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang
sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang
tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa
membuang waktu, orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya
mendengarkannya dengan seksama. Ia Ialu
mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, Ialu
diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan
bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi
telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang
tenang itu. Pak Tua itu, Ialu kembali menaburkan
segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-
aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan
telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan
minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak
Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak",
jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu
menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia Ialu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di
samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya
kehidupan, adalah Iayaknya segenggam garam, tak
Iebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung
pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang
bisa kamu Iakukan. Lapangkanlah dadamu menerima
semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung
setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu Ialu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah
tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu
itu seperti gelas, buatlah Iaksana telaga yang
mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya Ialu beranjak pulang. Mereka sama-sama
belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan "segenggam garam", untuk
anak muda yang lain, yang sering datang padanya
membawa keresahan jiwa.
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada
suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang
sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang
tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa
membuang waktu, orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya
mendengarkannya dengan seksama. Ia Ialu
mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, Ialu
diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan
bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi
telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang
tenang itu. Pak Tua itu, Ialu kembali menaburkan
segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-
aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan
telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan
minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak
Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak",
jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu
menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia Ialu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di
samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya
kehidupan, adalah Iayaknya segenggam garam, tak
Iebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung
pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang
bisa kamu Iakukan. Lapangkanlah dadamu menerima
semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung
setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu Ialu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah
tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu
itu seperti gelas, buatlah Iaksana telaga yang
mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya Ialu beranjak pulang. Mereka sama-sama
belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan "segenggam garam", untuk
anak muda yang lain, yang sering datang padanya
membawa keresahan jiwa.
Su
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada
suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang
sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang
tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa
membuang waktu, orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya
mendengarkannya dengan seksama. Ia Ialu
mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, Ialu
diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan
bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi
telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang
tenang itu. Pak Tua itu, Ialu kembali menaburkan
segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-
aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan
telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan
minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak
Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak",
jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu
menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia Ialu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di
samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya
kehidupan, adalah Iayaknya segenggam garam, tak
Iebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung
pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang
bisa kamu Iakukan. Lapangkanlah dadamu menerima
semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung
setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu Ialu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah
tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu
itu seperti gelas, buatlah Iaksana telaga yang
mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya Ialu beranjak pulang. Mereka sama-sama
belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan "segenggam garam", untuk
anak muda yang lain, yang sering datang padanya
membawa keresahan jiwa.

Tentang cinta

 Foto: Suatu ketika plato terlibat perbincangan dengan
dengan gurunya.... Plato menanyakan makna Cinta
dan gurunya pun menjawab : "Masuklah kedalam
hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang
menurutmu paling baik, tetapi engkau haruslah
berjalan kedepan dan jangan kembali kebelakang.
Pada saat kau memutuskan pilihanmu, keluarlah dari
hutan dengan ranting tersebut".
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah
Plato tanpa membawa sebatang rantingpun.
Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato :"Saya
sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus,
tetapi saya berpikir barangkali didepan saya ada
ranting yang lebih baik. Tetapi setelah saya berjalan
kedepan ternyata ranting yang sudah saya
tinggalkan tadilah yang terbaik.Maka saya keluar
dari hutan tanpa membawa apa-apa".
Guru itupun berkata;
"Itulah cinta". Kita selalu ingin mencari yang terbaik,
terindah dan sesuai dengan yang kita
harapkan….namun tanpa sadar justru kita tidak
mendapatkan apa2, sementara sang waktu akan
terus berjalan.
Lalu plato pun bertanya apakah makna pernikahan?
Gurupun menjawab; " Sama seperti ranting tadi,
namun kali ini engkau haruslah membawa satu
pohon yang kau pikir paling baik dan bawalah keluar
dari hutan.
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah
plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu
tinggi juga tidak terlalu indah. Gurunya pun
bertanya, maka jawab Plato :"Saya bertemu pohon
yang indah daunnya, besar batangnya.... tetapi saya
tak dapat memotongnya dan pastilah saya tak
mampu membawanya keluar dari dalam hutan....
akhirnya saya tinggalkan.
Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu
buruk, tidak terlalu tinggi dan saya pikir mampu
membawanya karena mungkin saya tidak mungkin
menemui pohon seperti ini didepan sana. Akhirnya
saya pilih pohon ini karena saya yakin mampu
merawatnya dan menjadikannya indah.
Lalu sang guru berkata :"Itulah makna pernikahan".
Begitu banyak pilihan didepan kita seperti pohon-
pohon dan ranting-rantingnya didalam hutan. Tapi
kita mesti menentukan satu pilihan karena
kesempatan itu hanya satu kali. Kita harus terus
maju seperti waktu yang beredar kedepan yang tidak
pernah tersimpan pada hari semalam, kemarin atau
bersemayam pada masa lalu kita.
¤¤¤¤¤
Suatu ketika plato terlibat perbincangan dengan
dengan gurunya.... Plato menanyakan makna Cinta
dan gurunya pun menjawab : "Masuklah kedalam
hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang
menurutmu paling baik, tetapi engkau haruslah
berjalan kedepan dan jangan kembali kebelakang.
Pada saat kau memutuskan pilihanmu, keluarlah dari
hutan dengan ranting tersebut".
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah
Plato tanpa membawa sebatang rantingpun.
Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato :"Saya
sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus,
tetapi saya berpikir barangkali didepan saya ada
ranting yang lebih baik. Tetapi setelah saya berjalan
kedepan ternyata ranting yang sudah saya
tinggalkan tadilah yang terbaik.Maka saya keluar
dari hutan tanpa membawa apa-apa".
Guru itupun berkata;
"Itulah cinta". Kita selalu ingin mencari yang terbaik,
terindah dan sesuai dengan yang kita
harapkan….namun tanpa sadar justru kita tidak
mendapatkan apa2, sementara sang waktu akan
terus berjalan.
Lalu plato pun bertanya apakah makna pernikahan?
Gurupun menjawab; " Sama seperti ranting tadi,
namun kali ini engkau haruslah membawa satu
pohon yang kau pikir paling baik dan bawalah keluar
dari hutan.
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah
plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu
tinggi juga tidak terlalu indah. Gurunya pun
bertanya, maka jawab Plato :"Saya bertemu pohon
yang indah daunnya, besar batangnya.... tetapi saya
tak dapat memotongnya dan pastilah saya tak
mampu membawanya keluar dari dalam hutan....
akhirnya saya tinggalkan.
Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu
buruk, tidak terlalu tinggi dan saya pikir mampu
membawanya karena mungkin saya tidak mungkin
menemui pohon seperti ini didepan sana. Akhirnya
saya pilih pohon ini karena saya yakin mampu
merawatnya dan menjadikannya indah.
Lalu sang guru berkata :"Itulah makna pernikahan".
Begitu banyak pilihan didepan kita seperti pohon-
pohon dan ranting-rantingnya didalam hutan. Tapi
kita mesti menentukan satu pilihan karena
kesempatan itu hanya satu kali. Kita harus terus
maju seperti waktu yang beredar kedepan yang tidak
pernah tersimpan pada hari semalam, kemarin atau
bersemayam pada masa lalu kita.
¤¤¤¤¤

Tuesday, 14 May 2013

Media pembelajaran, Permainan bahasa


PERMAINAN BAHASA

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Media Pembelajaran
Dosen pengampu: Alis Asikin, M.A.

 









Disusun oleh:
Nujumun Niswah        (103211037)
Nur I’anah                   (103211038)
Nur Indah Wardani     (103211039)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
PERMAINAN BAHASA
I.         PENDAHULUAN
Sejauh ini, belajar bahasa Arab masih kurang diminati oleh masyarakat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini dikarenakan umumnya bahasa Arab tidak menggema dalam lingkungan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, guru perlu menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan minat siswa yang tinggi untuk belajar bahasa Arab.
Salah satu cara untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Dalam hal ini, dibutuhkan media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa dalam proses belajar-mengajar bahasa Arab. Dengan kata lain, peran media permainan tidak kalah penting dengan peran kompetensi guru yang memadai dalam kompetensi.[1]
Kaitannya dengan hal tersebut, penulis dalam makalah ini akan sedikit banyak mengupas tentang hal-hal yang berhubungan dengan permainan bahasa Arab.

II.         RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang permasalahan tema makalah ini, pemakalah merumuskan batasan-batasan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
A.    Apa pengertian dan hakikat permainan bahasa?
B.     Apa pentingnya menngunakan permainan bahasa dalam pembelajarn bahasa Arab?
C.     Bagaimana ciri-ciri permainan bahasa yang baik?
D.    Apa saja macam-macam permainan bahasa yang ada? Dan apa tujuan dari masing-masing permainan tersebut?

III.         PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Hakikat Permainan Bahasa
Istilah permainan, menurut pengertiannya adalah situasi atau kondisi tertentu saat seseorang mencari kesenangan atau kepuasan melalui suatu aktivitas atau kegiatan bermain. Permainan merupakan suatu aktivitas yang bertujusn memperolehketerampilan tertentu dengan cara menggembirakan seseorang. Kegiatan bermain berhubungan dengan kegiatan interaksi seseorang dengan orang lain, atau barang (mainan). Dengan permainan, seseorang memperoleh manfaat menemukan identitas, mempelajari sebab akibat, mengembangkan hubungan, mempraktikan kemampuan, serta mempengaruhi segenap faktor dan aspek kehidupan. Permainan merupakan sarana yang efektif dan efisien serta penting untuk menghibur, mendidik, memberikan dampak positif, dan membesarkan setiap pribadi.
Parten, dalam Dockett dan Fleer, memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi. Melalui bermain, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam bereksplorasi, berkreasi dan belajar secara menyenangkan.
Adapun yang dimaksud dengan permainan bahasa adalah cara mempelajari bahasa melalui permainan. Permainan bahasa merupakan aktifitas yang dirancang dalam pengajaran dan berhubungan dengan kandungan isi pelajaran secara langsung atau tidak langsung. Suatu kegiatan dapat disebut permainan bahasa apabila suatu aktivitas tersebut mengandung unsur kesenangan dan melatih keterampilan berbahasa atau unsur bahasa tertentu.
Apabila permainan menimbulkan kesenangan, namun tidak memperoleh keterampilan berbahasa maka permainan tersebut tidak bisa disebut permainan bahasa, begitupun sebaliknya, apabila suatu kegiatan bertujuan melatih keterampilan berbahasa, namun tidak ada unsur kesenangan maka kegiatan tersebut tidak disebut permainan bahasa.[2]

B.     Urgensi Permainan Bahasa
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi, ataupun medianya. Dalam hal ini permainan bahasa mempunyai peran sangat penting dalam pembelajaran bahasa Arab, urgensinya yaitu:
1.         Diperlukan agar peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam belajar.
2.         Untuk menepis persepsi negatif peserta didik terhadap bahasa Arab
3.         Pembelajaran bahasa Arab lebih menyenangkan dan variatif

C.    Ciri-ciri Permainan Bahasa yang Baik
Permainan bahasa yang baik itu bukan sebatas permainan, tetapi harus mempengaruhi siswa dalam penguasaan bahasa. Selain itu, juga dapat membantu siswa mempelajari materi bahasa yang lebih daripada sekedar aktivitas bermain itu sendiri. Berikut ciri-ciri permainan bahasa yang baik dan cocok dipraktikkan dalam pengajaran bahasa:
1.      Dapat mengukuhkan dan meningkatkan penguasaan bahasa, seperti mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Selain itu juga dapat meningkatkan penguasaan unsur bahasa. (kosa kata dan tata bahasa).
2.      Mempunyai rangsangan dan bahan yang menarik sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa pelajar.
3.      Memberikan peluang kepada siswa untuk bertindak secara aktif dan positif serta dapat meningkatkan minat mereka.
4.      Melibatkan peserta didik secara aktif, baik dalam kelompok maupun kelas.
5.      Mempunyai petunjuk dan peraturan yang jelas serta mudah dipahami.
6.      Dapat dijalankan dalam jangka waktu dan tempat yang sesuai agar pembelajaran dapat dicapai secara objektif.[3]

D.    Macam-macam Permainan Bahasa dan Tujuannya
Unsur ketrampilan berbahasa terdiri dari empat macam, yaitu: istima’, kalam, qiro’ah, dan kitabah. Dalam rangka pembelajaran dan penempaan keempat macam ketrampilan tersebut, terdapat aneka ragam permainan bahasa edukatif yang bisa digunakan sebagai media pembelajarannya. Secara garis besar, ada empat kelompok permainan bahasa yang akan sedikit diulas dalam makalah ini. Pertama, permainan ejaan, kosakata, dan kalimat. Kedua, permainan berbicara. Ketiga, permainan menulis. Keempat, permainan mendengar.
1.      Permainan ejaan, kosakata, dan kalimat
Ada beberapa permainan yang bisa diterapkan dalam hal ejaan, kosakata, dan kalimat dalam bahasa Arab, antara lain:
a.    Mengenali anggota badan dengan lagu[4]
Permainan ini bertujuan mengenalkan siswa terhadap anggota badan menggunakan lagu. Dalam permainan ini diperlukan lagu tentang anggota badan berbahasa Indonesia yang sudah ada. Cara bermainnya adalah dengan mengajak siswa bernyanyi lagu tersebut, lalu lirik lagu tersebut kita gubah ke dalam bahasa Arab.
b.   Komunikata cepat[5]
Tujuan dari permainan ini adalah agar siswa dapat memproduksi kata dengan cepat, logis dan tepat.
Alat yang diperlukan antara lain: telinga (pendengaran), penglihatan, pikiran, dan mulut (pengucapan dan pelafalan). Dalam permainan ini siswa dituntut untuk jeli dan teliti mendengarkan kata-kata dari teman sebelumnya.
Cara bermain:
Siswa diajak bermain dengan menyambung huruf terakhir menjadi sebuah kata baru. Kata kunci permainan ini adalah memanfaatkan suku kata terakhir sebagai kata pertama. Siswa berikutnya tidak boleh menyebutkan kata yang sama dan disebutkan oleh temannya. Misalnya ضَرَبَ, sudah disebutkan berarti kata ini sudah tidak boleh disebutkan lagi.
Kata umpan pertama bisa dari guru. Kemudian, dilanjutkan oleh siswa-siswa berikutnya. Siswa yang tidak bisa melanjutkan kata dari teman sebelumnya bisa diberi hukuman.
Permainan ini bisa juga dilakukan secara lisan maupun tertulis. Apabila permainan ini dilaksanakan secara tertulis dapat digunakan untuk melatih ejaan, yaitu berkaitan dengan pemenggalan suku kata.
Peningkatan taraf kesulitan permainan dapat dilakukan dengan menambah ketentuan-ketentuan lain yang lebih berat, misalnya kata-kata yang digunakan harus bersuku kata tiga, atau berupa kata benda, atau kata kerja, dan lain-lain.[6]
c.    Tusuk kata[7]
Permainan ini bertujuan agar siswa dapat meneglompokkan jenis kata dan menambah perbendaharaan kata. Permainan ini cocok untuk mengajarkan identifikasi dan pengelompokkan. Misalnya, identifikasi macam-macam kalimat, ciri-ciri kalimat, membedakan huruf jar, jazm, dan lain sebagainya.
Alat yang diperlukan dalam permainan adalah lidi dan kertas. Bentuk dari kertas ini seperti lingkaran-lingkaran kecil yang bertuliskan kosa kata Arab.
Cara bermain game ini adalah saebagai berikut:
1)      Guru membuat lingkaran-lingkaran kecil seperti daging dari kertas manila.
2)      Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
3)      Guru memberikan instruksi tentang mekanisme tusuk kata (pemainan tusuk kata) kepada masing-masing kelompok.
4)      Masing-masing kelompok mencari dan mengumpulkan kelompok yang telah diacak dan menyusunnya dengan menusukkan kata (sejenis) yang sesuai dengan kelompok kata tersebut.
5)      Siswa mencari, mendiskusikan, dan mengklasifikasi kata sesuai dengan bagiannya masing-masing.
6)      Setelah game selesai, tiap kelompok mengirim perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
d.   Strip story (potongan kertas)[8]
Teknik strip story dengan memakai kepingan kertas mula-mula dicetuskan oleh Prof. R.E. Gibson dalam majalah TESL Quarterly (vol. 9 no. 02) yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ann dan John Boyd dalam TOESL Newsletter dan dijelaskan dengan pengalaman langsung di lapangan oleh Carol Lamelin di majalah yang sama. Fathul Mujib juga menyebutkan permainan yang sama dalam bukunya Metode Permainan-permainan Edukatif dalam Belajar Bahasa Arab tetapi dengan nama yang berbeda yaitu Broken square (kotak pecah), hanya saja dalam buku ini permainan tersebut disajikan dengan lebih sederhana dengan tanpa melibatkan kemampuan memori siswa.
Tujuan dari permainan ini adalah membantu kemampuan siswa dalam mengurutkan kalimat secara tepat dan benar. Teknik lewat media ini bertitik tolak dari suatu approach yang menggunkan aktivitas komunikasi yang sesungguhnya agar kelak siswa dapat dengan mudah dan tidak sungkan untuk berkomunikasi dengan bahasa asing. Berikut secara detail cara penggunaan dan pembuatan permainan strip story:
1)   Sebelum masuk kelas
-       Guru memilih suatu topik cerita dalam muthola’ah atau mahfuzhah yang kira-kira dapat dibagi rata kalimat-kalimatnya kepada siswa.
-       Kalimat-kalimat tersebut ditulis atau diketik dengan jelas dengan mengosongkan ruang ekstra antara setiap kalimat dengan kalimat.
-       Lembaran kisah tersebut dipotong-potong dengan gunting menjadi berkeping-keping dengan satu kalimat untuk satu kepingan/potongan.
2)   Dalam kelas
-       Kepingan-kepingan kertas yang berisi kalimat-kalimat itu dibagi-bagikan secara random kepada siswa.
-       Guru meminta siswa menghafal luar kepala kalimatnya dalam sekejap (satu-dua menit). Siswa-siswa dilarang menulis apa-apa atau memperlihatkan kalimatnya kepada orang lain.
-       Guru meminta murid untuk mengumpulkan kembali strip tersebut
-       Guru meminta para siswa untuk berdiri dari kursi. Kalau kelas besar atau murid banyak, mereka dibagi per grup.
-       Siswa sibuk berusaha menyusun cerita
-       Setelah kalimat itu teratur rapi dalam bentuk sebuah cerita dan mereka setuju, mereka lalu berdiam diri.
-       Setiap individu menyebut kalimatnya secara berturut sehingga berbentuk satu cerita yang teratur.
-       Kalau waktu masih mengizinkan, murid-murid bisa diminta untuk menulis kisah tersebut dalam buku mereka dan mereka saling mendiktekan kalimat mereka dengan temannya.
-       Setelah semua dilakukan oleh murid, teks asli cerita tersebut dibagikan atau diperlihatkan melalui overhead projector.

Di sini terlihat bahwa median potongan-potongan kertas stir story bisa dipakai untuk mata pelajaran: imla’, muhadatsah, muthola’ah, mahfuzhah, dan insya’.
2.      Permainan berbicara
Permainan bahasa yang berkaitan dengan ketrampilan berbicara antara lain:
a.    Ular tangga[9]
Permainan bahasa ular tangga adalah permainan yang menggunakan media papan atau kertas ular tangga. Tujuan dari permainan ini adalah melatih kecepatan siswa dalam berbicara.
Beberapa alat yang diperlukan dalam permainan ini yaitu: papan, kertas ular tangga yang dilengkapi gambar, dan dadu. Dadu tidak harus seperti dadu umumnya, guru bisa membuat dadu sendiri dengan angka Arab.
Cara bermain:
-          Guru menyiapkan media ular tangga (guru bisa membuat istilah sendiri)
-          Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
-          Aturan main sama persis seperti permainan ular tangga pada umumnya. Ketika siswa berhenti pada satu kotak, maka ia harus berbicara apa saja yang berhubungan dengan sesuatu di kotak tersebut.
b.   Terka aksi[10]
Permainan ini bertujuan melatih kecermatan dan kreativitas siswa. alat yang dibutuhkan dalam permainan ini hanya kartu aksi.
Cara bermain: guru membagikan kartu aksi kepada masing-masing kelompok. Satu kelompok bisa terdiri atas dua orang atau lebih. Salah satu siswa bertugas menjadi peraga dari kartu aksi tersebut. Dia harus melakukan gerakan (berupa aktivitas atau aksi) sesuai dengan kartu yang dipegangnya. Sedangkan siswa yang lain menebak gerakan tersebut.
Guru atau siswa mempraktikkan aksi tersebut layaknya pemain antonim. Ia hanya boleh bergerak menyerupai aksi tertentu, tetapi tidak boleh menyebutkan nama aksinya menggunakan suara.
c.    Cerita berantai[11]
Cerita berntai merupakan permainan yang bertujuan melatih kecermatan, kreativitas, dan kecepatan siswa. alat yang harus dipersiapkan dalam permainan ini berupa buku bacaan atau materi yang akan dijadikan bacaan acuan bagi guru.
Cara bermain: siswa dibagi menjadi beberapa kelompok atau individual. Guru memulai cerita, lalu menunjuk siswa atau kelompok untuk meneruskan cerita. Setiap individu atau kelompok harus memperhatikan apapun yang diucapkan oleh kelopok lainnya. Sebab guru dapat menunjuk siapapun untuk meneruskan cerita. Jangan lupa, guru harus memberi batas waktu kepada siswa atau kelompok untuk berpikir dalam waktu yang ditentukan.
3.      Permainan menulis
Permainan bahasa yang terkait dengan ketrampilan menulis antara lain:
a.    Menggandeng huruf[12]
Permainan ini bertujuan agar siswa mengenal abjad dan melatih mereka menggandeng huruf huruf hijaiyah. Beberapa alat yang diperlukan antara lain kertas, pulpen, dan buku iqra’ sebagai alat peraga.
Cara bermain:
-          Guru menyediakan gambar sebagai kata kunci, dan potongan kalimat
-          Guru membagi selembar kertas kepada masing-masing siswa yang berisi gambar sebagai kata kunci, dan beberapa potongan kalimat ayang disertai terjemahannya. Siswa menggandeng kalimat yang terpotong itu menjadi susunan yang benar.
b.      Menulis kalimat terpanjang[13]
Permainan ini bertujuan agar siswa berlatih memikirkan kata-kata yang tepat dan merangkainya dalam urutan logis berdasarkan tata bahasa yang benar dan tepat. Alat-alat yang diperlukan dalam permainan ini antara lain: pulpen atau spidol dan kertas. Permainan ini bisa dimainkan secara individu atau kelompok.
Cara bermain:
-          Guru membuat beberapa kelompok.
-          Setiap kelompok berdiri sejajar atau berbaris. Tiap barisan diberi satu kertas dan pulpen atau spidol.
-          Setiap barisan harus membuat kalimat yang berarti. Setiap barisan hanya boleh menuliskan satu kata dan dilakukan secara berurutan dimulai dari peserta paling ujung yang satu sampai ujung yang lain.
-          Jika kalimat belum selesai sampai pada orang yang terakhir, maka diulang lagi sampai kepada orang yang pertama, sampai kalimat berhenti dan benar.
c.    Teka-teki silang[14]
Permainan ini dapt membantu siswa berpikir cepat, logis, dan tepat. Tujuan dari permainan ini adalah untuk melatih siswa memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengisi kolom-kolom kosong, baik mendatar atau menurun.
Beberapa alat yang diperlukan: kolom gambar TTS difoto copy sebesar mungkin, dan ditaruh atau ditempel di papan tulis. Permainan ini bisa dimainkan dalam kelompok atau imdividu.
Cara bermain:
-          Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
-          Guru memberikan instruksi tentang mekanisme TTS kepada masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok mencari dan menemukan kosa kata dan menuliskannya di kolom, baik mendatar maupun menurun.
-          Setelah game selesai, tip kelompok mengirim perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusinya kemudian masing-masing perwakilan kelompok menulis dan mengisi TTS yang difoto copy perbesar di papan tulis
4.      Permainan mendengar
Di antara permainan bahasa yang bisa digunakan untuk pembelajaran ketrampilan istima’ yaitu: bisik kata.
Permainan ini dinamakan bisik berantai karena setiap pemain secara berurutan harus membisikkan suatu kalimat kepada pemain berikutnya. Kalimat yang dibisikkan adalah kalimat hasil menyimak bisikan pemain sebelumnya. Materi yang dikomunikasikan disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik. Pola kalimat yang dibisikkan hendaknya sejalan dengan pola kalimat yang diajarkan, dan bukan pola kalimat yang sudah dihafal peserta didik.

IV.         SIMPULAN
1.      Perminan bahasa adalah cara mempelajari bahasa melalui permainan. Suatu kegiatan bisa dinamakan permainan bahasa apabia suatu aktifitas tersebut mengandung unsur ketenangan dan melatih keteranpilan berbahasa atau unsur bahasa tertentu.
2.      Pentingnya permainan bahasa dalam pembelajaran bahasa Arab adalah untuk menghilangkan perspektif bahwa bahasa Arab itu sulit, juga agar pembelajaran lebih menyenanglan dan variatif.
3.      Ciri-ciri permainan bahasa yang baik adalah mempunyai rangsangan dan bahan yang menarik sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa pelajar.
4.      Macam-macam permainan bahasa terkelompokan menjadi empat, yaitu: permainan ejaan, menyimak, berbicara dan menulis.
V.         PENUTUP
Alhamdulillah, dengan seizinNya pemakalah dapat menyelesaikan penulisan dan penyusunan makalah ini dengan baik. Semoga makalah yang singkat ini dapat bermanfaat bagi para pendidik umumnya, dan bagi para guru maupun calon guru khususnya.
Dengan disajikannya makalah ini ke hadapan para pembaca, pemakalah juga menyajikan banyak kesalahan dan kekurangan baik dalam segi materi, bahasa maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, dengan segenap kerendahan hati tim pemakalah mengaharap kritik dan saran yang konstruktif nan komprehensif dari para pembaca untuk dijadikan bahan evaluasi makalah ini dan agar dapat menjadi acuan bagi makalah kelak yang akan datang.




[1] Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati, Metode Permainan-Permainan Edukatif Dalam Belajar Bahasa Arab, (Jogjakarta: Diva Press, 2011), hlm. 73.
[2] Ibid., hlm. 33.
[3] Fathul Mujib, Op. Cit., hlm. 55.
[4] Fathul Mujib, Ibid., hlm. 98-99.
[5] Ibid., hlm. 74-75.
[6] slide
[7] Fathul, Op. Cit., 85-87.
[8] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 80-83. Lihat juga Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati Metode Permainan-permainan Edukatif dalam Belajar Bahasa Arab, hlm. 118-119.
[9] Ibid., hlm. 127-129.
[10] Ibid., hlm. 137-138.
[11] Ibid., hlm. 139.
[12] Ibid., hlm. 174-175.
[13] Ibid., hlm. 198-199
[14] Ibid., hlm. 215-217