Showing posts with label wisdom. Show all posts
Showing posts with label wisdom. Show all posts
Sunday, 12 May 2013
pasangan yang baik
Nyatanya, untuk menjadi pasangan yang baik, kita tidak dituntut untuk banyak hal,,
Cukup mengetahui bagaimana membuatnya tentram saja, ternyata berarti mendukung kesuksesannya,,
doa malam hariku,,
Semoga dalam istihatku malam ini,,
Tuhan membisikan Namaku kedalam mimpi belahan jiwaku,,
Dan semoga digerakan dalam penyatuan dengan pemilik tulang rusuk ini yang masih rahasia,,
Aku tahu, dia juga merindukanku,,
Semoga kami segera dipertemukan dan dibahagiakan dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan kesetiaan,,
Aamiin aamiin yaa Robbal aalamiin
wisdom
Sering tidak terfikirkan sebelumnya,
bahwa Allah yang Maha baik telah mengatur segala sesuatu dalam hidup kita secara cermat..
padahal kesadaran ini memicu sikap agar kita selalu berbaik sangka pada-Nya..
Friday, 10 May 2013
قصّة أبو سفيان مع هرقلَ
قصّة أبو سفيان مع هرقل
جار الحوار بين أبو سفيان مع سلطان الروم هرقل:
قال عبد الله بن عباس أن ابا سفيان بن حرب اخبره: ان هرقل ارسل اليه في ركب من قريش, و كانوا في تجارة بارض الشام, فاتوه و هو بإيلياء, فدعاهم في مجلسه و حوله عظماء الروم.
ثمّ دعا ترجمانه فقال: ايّكم اقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم انه نبيّ؟ فقال ابو سفيان: انا اقربهم نسبا.
قال ادنوه منّي و قربوا اصحابه فاجعلهم عند ظهره ثم قال لترجمانه: قل لهم إنّي سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه
قال فو الله لولا الحياء من ان يؤثروا عليّ كذبا لكذبت عليه. ثمّ كان اوّل ما سألني عنه ان قال كيف نسبه فيكم؟ قلت: هو فينا ذو نسب.
قال فهل قال هذا القول احد منكم قط قبله؟ قلت لا
قال: فهل كان من أبائه من ملك ؟ قلت لا,
قال: فأشرأف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم؟ قلت: بل ضعفاؤهم.
قال: أيزيدون أم ينقصون؟ قلت: بل يزيدون.
قال: فهل يرتدّ احد منهم سخطة لدينه بعد ان يدخل فيه؟ قلت: لا.
قال: فهل انتم تنهمونه بالكذب قبل ان يقول ما قال؟ قلت: لا.
قال: فهل يغدر؟ قلت: لا, و نحن منه في مدّة لا ندري ما هو فاعل فيها-
قال ابو سفيان: و لم يمكني كلمة ادخل فيها شيئا غير هذه الكلمة.
قال: فهل قاتلتموه؟ قلت: نعم. قال: فكيف كان قتالكم إيّاه؟ قلت: الحرب بيننا و بينه سجال. ينال منّا و ننال منه. قال: بماذا يأمركم؟
قلت: يقول: اُعبدوا الله وحده ولاتشركوا به شيئا, واتركوا ما يقول آباؤكم. و يأمر نا بالصلاة و الصدق و العفاف و الصلة.
فقال: للترجمان: قل له: سألتك عن نسبه؟ فذكرت أنه فيكم ذو نسب, فكذلك الرسل تبعث في نسب قومها. و سألتك: هل قال أحد منكم هذا القول؟ فذكرت أن لا فقلت: لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يتأسى بقول قيل قبله.
و سألتك: هل كان من آبائه من ملك؟ فذكرت ان لا. قلت: فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك ابيه.
و سألتك: هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال؟ فذكرت أن لا.
فقد عرفت أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس و يكذب على الله.
و سألتك: أشرف الناس إتبعوه أم ضعفاؤهم؟ فذكرت أن ضعفاؤهم إتبعوه, و هم اتباع الرسل.
و سألتك: أ يزيدون ام ينقصون؟ فذكرت أنهم يزيدون و كذالك امر الايمان حتى يتّم,
و سألتك: أيرتدّ أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه؟ فذكرت أن لآ. و كذلك الايمان حين تخالط بشاشته القلوب.
و سألتك: هل يغدر؟ فذكرت أن لا, و كذلك الرسل لا يغدرون.
و سألتك: بم يأمركم؟ فذكرت أنه يأمركم اُن تعبدوا الله وحده ولاتشركوا به شيئا, و ينها كم عن عبادة الاوثان, و يأمركم بالصلاة و الصدق و العفاف. فإن كان ما تقول حقّا فسيملك موضع قدميّ هاتين. و قد كنت أعلم أنه خارج. و لم اكن اظن أنّه منكم, فلو أنّي اعم أخلص إليه لتجشّمت لقاءه, و لو كنت عنده لغسلت عن قدميه. ثم دعا بكتاب رسول الله الذي بعث به دحية إلى عظيم بصري فدفعه إلى هرقل فقرأه فإذا فيه:
بسم الله الرحمن الرحيم, من محمد عبد الله و رسوله إلى هرقل عظيم الروم. سلام على من اتبع الهدى أما بعد: فإنى ادعوك بدعاية الاسلام. أسلم تسلم يؤتك الله أجرك مرّتين, فإن تولّيت فإنّ عليك إثم. "الأريسيين"
قال ابو سفيان: فلمّا قال ما قال و فرغ من قرأة الكتاب, كثر أنه الصخب, و ارتفعت الاصوات و أخرجنا فقلت لاصحاب حين أخرجنا: لقد بلغ من امر بن ابي كبشة أنه يخافه ملك بني أصفر. فما زلت موقنا أنه سيظهر حتي يدخل الله علي الاسلام.
Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran
TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PEMBELAJARAN
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Evaluasi Pembelajaran
Dosen pengampu: Dra. Miswari, M.Ag
Disusun oleh:
Ainul Musthofiyah (103211005)
Ari Susanto (103211006)
Nur Indah Wardani (103211039)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PEMBELAJARAN
I. PENDAHULUAN
Salah satu komponen yang harus dikuasai oleh guru adalah Evaluasi pembelajaran. Kompetensi ini sejalan dengan tugas dan tanggung jawab guru dalam pembelajaran yaitu mengevaluasi pembelajaran. Kompetensi tersebut sejalan pula dengan instrumen penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah melakukan evaluasi pembelajaran, agar mengetahui kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran tersebut, sehingga mampu memperbaikinya. Pada minggu lalu kita telah mempelajari tentang pengertian evaluasi, penilaian, dan pengukuran, dan pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari tentang tujuan dan fungsi evaluasi pembelajan. Semoga bermanfaat.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa pengertian evaluasi?
B. Apa pengertian pembelajaran?
C. Apa tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Pada minggu lalu, telah dibahas tentang pengertian evaluasi, penilaian, dan pengukuran. Dan pada kesempatan kali ini kita ulas kembali tentang evaluasi tersebut.
Secara harfiyah, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa arab al-taqdir, dalam bahasa indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value, dalam bahasa arab, al-qimah, dan dalam bahasa indonesia berarti nilai.
Evaluasi dalam arti luas adalah prosesmerencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatuf-alternatif keputusan.
Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dalam arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan. Evaluasi merupakan suatu proses, bukan suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi.
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Oleh karena itu, dalam menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat mengukur sejauh mana proses pembelajaran telah dilaksanakan.
B. Pengertian pembelajaran
Kata dasar dari pembelajaran adalah belajar. Sedangkan pengertian belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku, baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Dan pengertian dari pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis yang bersifat interaktif komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan situasi yang konduktif untuk belajar.
Jadi pengertian dari evaluasi pembelajaran adalah penilaian kegiatan dan kemajuan belajar siswa yang dilakukan secara berkala, yang berbentuk ujian, tugas, dan atau pengamatan oleh guru. Buntuk ujian tersebut meliputi: ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan ujian akhir.
C. Tujuan dan fungsi Evaluasi pembelajaran
Jika ingin melakukan kegiatan evaluasi, guru harus mengetahui dan memehami terlebih dahulu tentang tujuan dan fungsi dari evaluasi itu sendiri. Tujuan evaluasi ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus. Tujuan umum evaluasi adalah untuk melihat sejauh mana suatu program atau kegiatan tertentu dapat mencapai tujuan yang ditentukan, dan tujuan umum tersebut harus diperinci sehingga menjadi tujuan khusus , agar dapat menuntun guru dalam mengambangkan instrument evaluasi lainnya. Ada 2 cara yang dapat ditempuh guru untuk merumuskan tujuan evaluasi yang bersifat khusus. Pertama, melakukan perincian ruang lingkup evaluasi. Kedua, melakukan perincian proses mental yang akan dievaluasi.
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan keefisienan sistem pembelajaran, baik yang menyangkut tentang tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, maupun sistem penilaian itu sendiri. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, proses evaluasi pembelajaran harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip evaluasi, juga harus mempehatikan kesesuaiannya dengan komponen-komponen kegiatan pembelajaran lainnya. Ketidak tepatan dalam kegiatan evaluasi, tidak hanya menyebabkan rendahnya keakuratan dalam menentukan kompetensi dan performance belajar siswa.
Tujuan Evaluasi Pembelajaran:
1. Menentukan kemajuan atau hasil belajar pada siswa, yang berfungsi sebagai:
a. Laporan kepada orang tua / walisiswa
b. Penentuan kenaikan kelas
c. Penentuan kelulusan siswa
2. Penempatan siswa kedalam situasi belajar mengajar yang tepatan serasi dengan tingkat kemampuan, minat dan berbagai karac, teristik yang dimiliki.
3. Mengenal latar belakang siswa baik psikologis, fisik dan lingkungan, yang berguna baik bagi penempatan dan penentuan sebab-sebab kesulitan belajar begi siswa, yakni sebagai masukan bagi tugas bimbingan dan penyuluhan.
4. Sebagai umpan balik pada guru yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan program remidial bagi siswa.
5. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.
6. Mengetahui tingkat keberhasilan PBM.
7. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian.
8. Memberikan pertanggung jawaban (accountability)
Fungsi evaluasi memang cukup luas, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Bila kita lihat secara menyeluruh, fungsi evaluasi adalah sebagai berikut:
1) Secara psikologis, peserta didik butuh untuk mengetahui sejauh mana kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2) Secara sosiologis, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun kemasyakat.
3) Secara Diktatis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu, sesuai kemampuan dan kecakapan masing-masing.
4) Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik untuk menempuh program pendidikannya.
5) Secara Administratif, evaluasi berfungsi sebagai untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru, dan peserta didik itu sendiri.
Hasil evaluasi dapat memberikan gambaran secara umum tentang semua hasil usaha yang dilakukan oleh institusi pendidikan.
IV. KESIMPULAN
1. Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan.
2. Pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan situasi yang konduktif untuk belajar.
3. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan keefisienan sistem pembelajaran, baik yang menyangkut tentang tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, maupun sistem penilaian itu sendiri.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat pemakalah susun. Dengan penuh kesadaran, pemakalah menyadari akan keterbatasan kemampuan makalah dalam memahami dan menyusun kembali refrensi-refrensi yang ada. Oleh karena itu, pemakalah memohon dengan sangat masukan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca untuk perbaikan karya ilmiah pemakalah yang akan datang.
Terakhir, tidak ada kata yang patut disampaikan dalam purna karya ini selain kata maaf atas segala kekeliruan, kesalahan dan kekurangan yang tercantum dalam makalah ini. Dan semoga makalah basithoh ini bisa mengantarkan para pembaca pada pemahaman materi tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran sehingga menjadi bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosyda Karya, 2011.
Purwanto, Ngalim. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosyda Karya, 2002.
Rahman, Aunur Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2009.
media pembelajaran, permainan bahasa
PERMAINAN BAHASA
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Media Pembelajaran
Dosen pengampu: Alis Asikin, M.A.
Disusun oleh:
Nujumun Niswah (103211037)
Nur I’anah (103211038)
Nur Indah Wardani (103211039)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
PERMAINAN BAHASA
I. PENDAHULUAN
Sejauh ini, belajar bahasa Arab masih kurang diminati oleh masyarakat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini dikarenakan umumnya bahasa Arab tidak menggema dalam lingkungan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, guru perlu menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan minat siswa yang tinggi untuk belajar bahasa Arab.
Salah satu cara untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Dalam hal ini, dibutuhkan media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa dalam proses belajar-mengajar bahasa Arab. Dengan kata lain, peran media permainan tidak kalah penting dengan peran kompetensi guru yang memadai dalam kompetensi.
Kaitannya dengan hal tersebut, penulis dalam makalah ini akan sedikit banyak mengupas tentang hal-hal yang berhubungan dengan permainan bahasa Arab.
II. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang permasalahan tema makalah ini, pemakalah merumuskan batasan-batasan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
A. Apa pengertian dan hakikat permainan bahasa?
B. Apa pentingnya menngunakan permainan bahasa dalam pembelajarn bahasa Arab?
C. Bagaimana ciri-ciri permainan bahasa yang baik?
D. Apa saja macam-macam permainan bahasa yang ada? Dan apa tujuan dari masing-masing permainan tersebut?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Hakikat Permainan Bahasa
Istilah permainan, menurut pengertiannya adalah situasi atau kondisi tertentu saat seseorang mencari kesenangan atau kepuasan melalui suatu aktivitas atau kegiatan bermain. Permainan merupakan suatu aktivitas yang bertujusn memperolehketerampilan tertentu dengan cara menggembirakan seseorang. Kegiatan bermain berhubungan dengan kegiatan interaksi seseorang dengan orang lain, atau barang (mainan). Dengan permainan, seseorang memperoleh manfaat menemukan identitas, mempelajari sebab akibat, mengembangkan hubungan, mempraktikan kemampuan, serta mempengaruhi segenap faktor dan aspek kehidupan. Permainan merupakan sarana yang efektif dan efisien serta penting untuk menghibur, mendidik, memberikan dampak positif, dan membesarkan setiap pribadi.
Parten, dalam Dockett dan Fleer, memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi. Melalui bermain, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam bereksplorasi, berkreasi dan belajar secara menyenangkan.
Adapun yang dimaksud dengan permainan bahasa adalah cara mempelajari bahasa melalui permainan. Permainan bahasa merupakan aktifitas yang dirancang dalam pengajaran dan berhubungan dengan kandungan isi pelajaran secara langsung atau tidak langsung. Suatu kegiatan dapat disebut permainan bahasa apabila suatu aktivitas tersebut mengandung unsur kesenangan dan melatih keterampilan berbahasa atau unsur bahasa tertentu.
Apabila permainan menimbulkan kesenangan, namun tidak memperoleh keterampilan berbahasa maka permainan tersebut tidak bisa disebut permainan bahasa, begitupun sebaliknya, apabila suatu kegiatan bertujuan melatih keterampilan berbahasa, namun tidak ada unsur kesenangan maka kegiatan tersebut tidak disebut permainan bahasa.
B. Urgensi Permainan Bahasa
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi, ataupun medianya. Dalam hal ini permainan bahasa mempunyai peran sangat penting dalam pembelajaran bahasa Arab, urgensinya yaitu:
1. Diperlukan agar peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam belajar.
2. Untuk menepis persepsi negatif peserta didik terhadap bahasa Arab
3. Pembelajaran bahasa Arab lebih menyenangkan dan variatif
C. Ciri-ciri Permainan Bahasa yang Baik
Permainan bahasa yang baik itu bukan sebatas permainan, tetapi harus mempengaruhi siswa dalam penguasaan bahasa. Selain itu, juga dapat membantu siswa mempelajari materi bahasa yang lebih daripada sekedar aktivitas bermain itu sendiri. Berikut ciri-ciri permainan bahasa yang baik dan cocok dipraktikkan dalam pengajaran bahasa:
1. Dapat mengukuhkan dan meningkatkan penguasaan bahasa, seperti mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Selain itu juga dapat meningkatkan penguasaan unsur bahasa. (kosa kata dan tata bahasa).
2. Mempunyai rangsangan dan bahan yang menarik sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa pelajar.
3. Memberikan peluang kepada siswa untuk bertindak secara aktif dan positif serta dapat meningkatkan minat mereka.
4. Melibatkan peserta didik secara aktif, baik dalam kelompok maupun kelas.
5. Mempunyai petunjuk dan peraturan yang jelas serta mudah dipahami.
6. Dapat dijalankan dalam jangka waktu dan tempat yang sesuai agar pembelajaran dapat dicapai secara objektif.
D. Macam-macam Permainan Bahasa dan Tujuannya
Unsur ketrampilan berbahasa terdiri dari empat macam, yaitu: istima’, kalam, qiro’ah, dan kitabah. Dalam rangka pembelajaran dan penempaan keempat macam ketrampilan tersebut, terdapat aneka ragam permainan bahasa edukatif yang bisa digunakan sebagai media pembelajarannya. Secara garis besar, ada empat kelompok permainan bahasa yang akan sedikit diulas dalam makalah ini. Pertama, permainan ejaan, kosakata, dan kalimat. Kedua, permainan berbicara. Ketiga, permainan menulis. Keempat, permainan mendengar.
1. Permainan ejaan, kosakata, dan kalimat
Ada beberapa permainan yang bisa diterapkan dalam hal ejaan, kosakata, dan kalimat dalam bahasa Arab, antara lain:
a. Mengenali anggota badan dengan lagu
Permainan ini bertujuan mengenalkan siswa terhadap anggota badan menggunakan lagu. Dalam permainan ini diperlukan lagu tentang anggota badan berbahasa Indonesia yang sudah ada. Cara bermainnya adalah dengan mengajak siswa bernyanyi lagu tersebut, lalu lirik lagu tersebut kita gubah ke dalam bahasa Arab.
b. Komunikata cepat
Tujuan dari permainan ini adalah agar siswa dapat memproduksi kata dengan cepat, logis dan tepat.
Alat yang diperlukan antara lain: telinga (pendengaran), penglihatan, pikiran, dan mulut (pengucapan dan pelafalan). Dalam permainan ini siswa dituntut untuk jeli dan teliti mendengarkan kata-kata dari teman sebelumnya.
Cara bermain:
Siswa diajak bermain dengan menyambung huruf terakhir menjadi sebuah kata baru. Kata kunci permainan ini adalah memanfaatkan suku kata terakhir sebagai kata pertama. Siswa berikutnya tidak boleh menyebutkan kata yang sama dan disebutkan oleh temannya. Misalnya ضَرَبَ, sudah disebutkan berarti kata ini sudah tidak boleh disebutkan lagi.
Kata umpan pertama bisa dari guru. Kemudian, dilanjutkan oleh siswa-siswa berikutnya. Siswa yang tidak bisa melanjutkan kata dari teman sebelumnya bisa diberi hukuman.
Permainan ini bisa juga dilakukan secara lisan maupun tertulis. Apabila permainan ini dilaksanakan secara tertulis dapat digunakan untuk melatih ejaan, yaitu berkaitan dengan pemenggalan suku kata.
Peningkatan taraf kesulitan permainan dapat dilakukan dengan menambah ketentuan-ketentuan lain yang lebih berat, misalnya kata-kata yang digunakan harus bersuku kata tiga, atau berupa kata benda, atau kata kerja, dan lain-lain.
c. Tusuk kata
Permainan ini bertujuan agar siswa dapat meneglompokkan jenis kata dan menambah perbendaharaan kata. Permainan ini cocok untuk mengajarkan identifikasi dan pengelompokkan. Misalnya, identifikasi macam-macam kalimat, ciri-ciri kalimat, membedakan huruf jar, jazm, dan lain sebagainya.
Alat yang diperlukan dalam permainan adalah lidi dan kertas. Bentuk dari kertas ini seperti lingkaran-lingkaran kecil yang bertuliskan kosa kata Arab.
Cara bermain game ini adalah saebagai berikut:
1) Guru membuat lingkaran-lingkaran kecil seperti daging dari kertas manila.
2) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
3) Guru memberikan instruksi tentang mekanisme tusuk kata (pemainan tusuk kata) kepada masing-masing kelompok.
4) Masing-masing kelompok mencari dan mengumpulkan kelompok yang telah diacak dan menyusunnya dengan menusukkan kata (sejenis) yang sesuai dengan kelompok kata tersebut.
5) Siswa mencari, mendiskusikan, dan mengklasifikasi kata sesuai dengan bagiannya masing-masing.
6) Setelah game selesai, tiap kelompok mengirim perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
d. Strip story (potongan kertas)
Teknik strip story dengan memakai kepingan kertas mula-mula dicetuskan oleh Prof. R.E. Gibson dalam majalah TESL Quarterly (vol. 9 no. 02) yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ann dan John Boyd dalam TOESL Newsletter dan dijelaskan dengan pengalaman langsung di lapangan oleh Carol Lamelin di majalah yang sama. Fathul Mujib juga menyebutkan permainan yang sama dalam bukunya Metode Permainan-permainan Edukatif dalam Belajar Bahasa Arab tetapi dengan nama yang berbeda yaitu Broken square (kotak pecah), hanya saja dalam buku ini permainan tersebut disajikan dengan lebih sederhana dengan tanpa melibatkan kemampuan memori siswa.
Tujuan dari permainan ini adalah membantu kemampuan siswa dalam mengurutkan kalimat secara tepat dan benar. Teknik lewat media ini bertitik tolak dari suatu approach yang menggunkan aktivitas komunikasi yang sesungguhnya agar kelak siswa dapat dengan mudah dan tidak sungkan untuk berkomunikasi dengan bahasa asing. Berikut secara detail cara penggunaan dan pembuatan permainan strip story:
1) Sebelum masuk kelas
- Guru memilih suatu topik cerita dalam muthola’ah atau mahfuzhah yang kira-kira dapat dibagi rata kalimat-kalimatnya kepada siswa.
- Kalimat-kalimat tersebut ditulis atau diketik dengan jelas dengan mengosongkan ruang ekstra antara setiap kalimat dengan kalimat.
- Lembaran kisah tersebut dipotong-potong dengan gunting menjadi berkeping-keping dengan satu kalimat untuk satu kepingan/potongan.
2) Dalam kelas
- Kepingan-kepingan kertas yang berisi kalimat-kalimat itu dibagi-bagikan secara random kepada siswa.
- Guru meminta siswa menghafal luar kepala kalimatnya dalam sekejap (satu-dua menit). Siswa-siswa dilarang menulis apa-apa atau memperlihatkan kalimatnya kepada orang lain.
- Guru meminta murid untuk mengumpulkan kembali strip tersebut
- Guru meminta para siswa untuk berdiri dari kursi. Kalau kelas besar atau murid banyak, mereka dibagi per grup.
- Siswa sibuk berusaha menyusun cerita
- Setelah kalimat itu teratur rapi dalam bentuk sebuah cerita dan mereka setuju, mereka lalu berdiam diri.
- Setiap individu menyebut kalimatnya secara berturut sehingga berbentuk satu cerita yang teratur.
- Kalau waktu masih mengizinkan, murid-murid bisa diminta untuk menulis kisah tersebut dalam buku mereka dan mereka saling mendiktekan kalimat mereka dengan temannya.
- Setelah semua dilakukan oleh murid, teks asli cerita tersebut dibagikan atau diperlihatkan melalui overhead projector.
Di sini terlihat bahwa median potongan-potongan kertas stir story bisa dipakai untuk mata pelajaran: imla’, muhadatsah, muthola’ah, mahfuzhah, dan insya’.
2. Permainan berbicara
Permainan bahasa yang berkaitan dengan ketrampilan berbicara antara lain:
a. Ular tangga
Permainan bahasa ular tangga adalah permainan yang menggunakan media papan atau kertas ular tangga. Tujuan dari permainan ini adalah melatih kecepatan siswa dalam berbicara.
Beberapa alat yang diperlukan dalam permainan ini yaitu: papan, kertas ular tangga yang dilengkapi gambar, dan dadu. Dadu tidak harus seperti dadu umumnya, guru bisa membuat dadu sendiri dengan angka Arab.
Cara bermain:
- Guru menyiapkan media ular tangga (guru bisa membuat istilah sendiri)
- Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
- Aturan main sama persis seperti permainan ular tangga pada umumnya. Ketika siswa berhenti pada satu kotak, maka ia harus berbicara apa saja yang berhubungan dengan sesuatu di kotak tersebut.
b. Terka aksi
Permainan ini bertujuan melatih kecermatan dan kreativitas siswa. alat yang dibutuhkan dalam permainan ini hanya kartu aksi.
Cara bermain: guru membagikan kartu aksi kepada masing-masing kelompok. Satu kelompok bisa terdiri atas dua orang atau lebih. Salah satu siswa bertugas menjadi peraga dari kartu aksi tersebut. Dia harus melakukan gerakan (berupa aktivitas atau aksi) sesuai dengan kartu yang dipegangnya. Sedangkan siswa yang lain menebak gerakan tersebut.
Guru atau siswa mempraktikkan aksi tersebut layaknya pemain antonim. Ia hanya boleh bergerak menyerupai aksi tertentu, tetapi tidak boleh menyebutkan nama aksinya menggunakan suara.
c. Cerita berantai
Cerita berntai merupakan permainan yang bertujuan melatih kecermatan, kreativitas, dan kecepatan siswa. alat yang harus dipersiapkan dalam permainan ini berupa buku bacaan atau materi yang akan dijadikan bacaan acuan bagi guru.
Cara bermain: siswa dibagi menjadi beberapa kelompok atau individual. Guru memulai cerita, lalu menunjuk siswa atau kelompok untuk meneruskan cerita. Setiap individu atau kelompok harus memperhatikan apapun yang diucapkan oleh kelopok lainnya. Sebab guru dapat menunjuk siapapun untuk meneruskan cerita. Jangan lupa, guru harus memberi batas waktu kepada siswa atau kelompok untuk berpikir dalam waktu yang ditentukan.
3. Permainan menulis
Permainan bahasa yang terkait dengan ketrampilan menulis antara lain:
a. Menggandeng huruf
Permainan ini bertujuan agar siswa mengenal abjad dan melatih mereka menggandeng huruf huruf hijaiyah. Beberapa alat yang diperlukan antara lain kertas, pulpen, dan buku iqra’ sebagai alat peraga.
Cara bermain:
- Guru menyediakan gambar sebagai kata kunci, dan potongan kalimat
- Guru membagi selembar kertas kepada masing-masing siswa yang berisi gambar sebagai kata kunci, dan beberapa potongan kalimat ayang disertai terjemahannya. Siswa menggandeng kalimat yang terpotong itu menjadi susunan yang benar.
b. Menulis kalimat terpanjang
Permainan ini bertujuan agar siswa berlatih memikirkan kata-kata yang tepat dan merangkainya dalam urutan logis berdasarkan tata bahasa yang benar dan tepat. Alat-alat yang diperlukan dalam permainan ini antara lain: pulpen atau spidol dan kertas. Permainan ini bisa dimainkan secara individu atau kelompok.
Cara bermain:
- Guru membuat beberapa kelompok.
- Setiap kelompok berdiri sejajar atau berbaris. Tiap barisan diberi satu kertas dan pulpen atau spidol.
- Setiap barisan harus membuat kalimat yang berarti. Setiap barisan hanya boleh menuliskan satu kata dan dilakukan secara berurutan dimulai dari peserta paling ujung yang satu sampai ujung yang lain.
- Jika kalimat belum selesai sampai pada orang yang terakhir, maka diulang lagi sampai kepada orang yang pertama, sampai kalimat berhenti dan benar.
c. Teka-teki silang
Permainan ini dapt membantu siswa berpikir cepat, logis, dan tepat. Tujuan dari permainan ini adalah untuk melatih siswa memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengisi kolom-kolom kosong, baik mendatar atau menurun.
Beberapa alat yang diperlukan: kolom gambar TTS difoto copy sebesar mungkin, dan ditaruh atau ditempel di papan tulis. Permainan ini bisa dimainkan dalam kelompok atau imdividu.
Cara bermain:
- Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
- Guru memberikan instruksi tentang mekanisme TTS kepada masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok mencari dan menemukan kosa kata dan menuliskannya di kolom, baik mendatar maupun menurun.
- Setelah game selesai, tip kelompok mengirim perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusinya kemudian masing-masing perwakilan kelompok menulis dan mengisi TTS yang difoto copy perbesar di papan tulis
4. Permainan mendengar
Di antara permainan bahasa yang bisa digunakan untuk pembelajaran ketrampilan istima’ yaitu: bisik kata.
Permainan ini dinamakan bisik berantai karena setiap pemain secara berurutan harus membisikkan suatu kalimat kepada pemain berikutnya. Kalimat yang dibisikkan adalah kalimat hasil menyimak bisikan pemain sebelumnya. Materi yang dikomunikasikan disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik. Pola kalimat yang dibisikkan hendaknya sejalan dengan pola kalimat yang diajarkan, dan bukan pola kalimat yang sudah dihafal peserta didik.
IV. SIMPULAN
1. Perminan bahasa adalah cara mempelajari bahasa melalui permainan. Suatu kegiatan bisa dinamakan permainan bahasa apabia suatu aktifitas tersebut mengandung unsur ketenangan dan melatih keteranpilan berbahasa atau unsur bahasa tertentu.
2. Pentingnya permainan bahasa dalam pembelajaran bahasa Arab adalah untuk menghilangkan perspektif bahwa bahasa Arab itu sulit, juga agar pembelajaran lebih menyenanglan dan variatif.
3. Ciri-ciri permainan bahasa yang baik adalah mempunyai rangsangan dan bahan yang menarik sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa pelajar.
4. Macam-macam permainan bahasa terkelompokan menjadi empat, yaitu: permainan ejaan, menyimak, berbicara dan menulis.
V. PENUTUP
Alhamdulillah, dengan seizinNya pemakalah dapat menyelesaikan penulisan dan penyusunan makalah ini dengan baik. Semoga makalah yang singkat ini dapat bermanfaat bagi para pendidik umumnya, dan bagi para guru maupun calon guru khususnya.
Dengan disajikannya makalah ini ke hadapan para pembaca, pemakalah juga menyajikan banyak kesalahan dan kekurangan baik dalam segi materi, bahasa maupun teknik penulisan. Oleh karena itu, dengan segenap kerendahan hati tim pemakalah mengaharap kritik dan saran yang konstruktif nan komprehensif dari para pembaca untuk dijadikan bahan evaluasi makalah ini dan agar dapat menjadi acuan bagi makalah kelak yang akan datang.
contoh rencana pelaksanaan pembelajaran, praktek micro teaching
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )
MTs : Nahdhotus Sibyan Wonoketingal Demak
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : IX/1
Alokasi Waktu : 1x15 Menit (1 Kali Pertemuan)
A. STANDAR KOMPETENSI
3.MEMBACA/QIRA'AH
Memahami wacana tertulis dalam bentuk paparan sederhana tentang دينية مناسبات / even-even keagamaan.
B. KOMPETENSI DASAR
3.2 mengidentifikasi kata, frasa dan kalimat dari wacana tertulis sederhana tentang عيد الفطر" dengan menggunakan fiil madhi (فعل الماضى).
C. INDIKATOR
Membedakan Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya.
D. TUJUAN PEMBELAJARAN
Siswa mampu membedakan Membedakan Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya dalam wacana tertulis sederhana, setelah mengikuti kegiatan pembelajaran melalui metode SGD ( Small Group Discussion ) dengan baik dan benar
Karakter siswa yang diharapkan :
Religius. Jujur. Toleransi. Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif , Rasa Ingin tahu. Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab
E. MATERI PEMBELAJARAN
Tema: ‘Idul Fitri
Materi: Bacaan yang berkaitan dengan “ عيد الفطر”.
F. METODE PEMBELAJARAN
Ceramah
SGD ( Small Group Discussion )
Tanya Jawab
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan Waktu Aspek Life Skill
Yang Dikembangkan
Kegiatan Pendahuluan :
Apersepsi dan Motivasi
Guru menyampaikan tema materi pembelajaran
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan manfaatnya dalam kehidupan
Kegiatan inti
Guru menjelaskan konsep tentang fiil madhi (فعل الماضى) (Eksplorasi)
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil (Elaborasi)
Guru membagikan soal yang berisi kalimat tidak sempurna kepada setiap kelompok (Elaborasi)
Guru memberi kesempatan siswa untuk membaca teks yang telah diberikan (Elaborasi)
Guru menyuruh siswa mengidentifikasi Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya yang terdapat dalam bacaan. (Elaborasi)
Guru meminta hasil kerja siswa dan melakukan koreksi hasil kerja siswa (Konfirmasi)
Kegiatan penutup.
Guru dan siswa sama-sama melakukan refleksi
Memberikan tugas pengayaan berupa pekerjaan rumah 3’
9’
3’
Pemahaman konsep tentang materi yang telah diprogramkan
H. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
Buku paket Bahasa Arab kelas IX
Buku paket Bahasa Arab yang relevan dengan pembelajaran
Kamus
H. ASSESSMENT / PENILAIAN
Prosedur :
Tes awal : ada
Tes proses : ada
Tes akhir : ada
Indikator Pencapaian Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Instrumen
Tes awal:
Membedakan Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya. Tes lisan
Tanya Jawab Berikan contoh Fiil madhi (فعل الماضى) yang sesuai dengan dhomirnya!
Tes proses:
Membedakan Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya dalam wacana tertulis sederhana tentang teks wacana yang telah diprogramkan.
Tes tertulis
Menyempurnakan Kalimat rompang
Menyempurnakan kalimat rompang, dengan memakai Fiil madhi (فعل الماضى) yang sesuai dengan dhomirnya. dalam wacana tertulis sederhana tentang teks wacana yang telah diprogramkan.
(contoh instrumen terlampir)
Tes akhir:
Membedakan Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya dalam wacana tertulis sederhana tentang teks wacana yang telah diprogramkan.
Penugasan Individual Pekerjaan rumah Sempurnakanlah kalimat yang memuat Fiil madhi (فعل الماضى) berdasarkan dhomirnya yang masih rumpang dibawah ini, dengan yang sesuai.
(contoh instrumen terlampir)
Mengetahui
Kepala Madrasah
Moh. Yusuf Azka Fahmi
NIP. 085741442460 Demak , 7 April 2013
Guru Bidang Studi Bahasa Arab
Nur Indah Wardani
NIP. 103211039
MATERI PEMBELAJARAN
URAIAN PERUBAHAN
PELAKU ARTI فعل الماضى KATA KERJA DASAR PENAMBAHAN
هو Dia Laki-laki (Satu) فعل فعل -
هما Dia Laki-laki (Dua) فعلا فعل ا
هم Dia Laki-laki (Banyak) فعلوا فعل وْا
هي Dia Perempuan (Satu) فعل فعل تْ
هما Dia Perempuan (Dua) فعلتا فعل ت ا = تاَ
هنَّ Dia Perempuan (Banyak) فعلْنَ فعل ن
أنتَ Kamu Laki-laki (Satu) فعلْتَ فعل تَ
انتما Kamu Laki-laki (Dua) فعلتُما فعل ت م ا = تمُاَ
أنتم Kamu Laki-laki (Banyak) فعلتم فعل ت م = تُمْ
أنتِ Kamu Perempuan (Satu) فعلتِ فعل تِ
أنتما Kamu Perempuan (Dua) فعلتُما فعل ت م ا = تُمَا
أنتُن Kamu Perempuan (Banyak) فعلتُنَّ فعل ت ن = تُنَّ
أنا Saya فعلتُ فعل تُ
نحن Kita فعلْنا فعل ن ا = نَا
INSTRUMENT TEST
إختر الإجابة الصحيحة في قوسين
1) .... احمدُ الى المدرسةِ مشياً على الأقدامِ. (ذهبَ - ذهبتُ - ذهبُوا)
2) ... فاطمةُ الى السوقِ مع أمِّهاَ. (ذهبَا – ذهبْن - ذهبتْ)
3) المسلمونُ .... الى المدينةِ. (هاجَر – هاجَرُوا - هاجَرا)
4) الطلابُ .... الى الفصلِ (دخلَ – دخلتْ - دخلواُ)
5) اناَ .... المسجدَ (دخلتُ – دخلْناَ - دخلْنَ)
Tuesday, 7 May 2013
TUJUAN PENGAJARAN MENURUT TAKSONOMI BLOOM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Nikmah Rahmawati, M.Si
Disusun oleh :
Nur I’anah (103211038)
Nur Indah Wardani (103211039)
Nur Muklis (103211040)
Nurul Afifah (103211041)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
TUJUAN PENGAJARAN
I. PENDAHULUAN
Belajar terjadi bila muncul perubahan perilaku pada diri siswa, baik dalam makna kognitif, afektif, maupun psikomotor. Perubahan perilaku itu sangat mungkin bahkan pasti demikian, tidak secara langsung dapat diamati. Perubahan perilaku sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran itu merupakan hasil dari interaksi seseorang denganlingkungannya. Jadi, belajar tidak lepas dari pengajaran karena pengajaran adlah proses beljar-mengajar.
Pengajaran merupakan totalitas aktifitas belajar-mengajar yang diawal dengan perencanaan diakhiri dengan evaluasi. Dan evaluasi ini diikuti dengan follow up.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa yang dimaksud dengan pengajaran?
B. Bagaimana taksonomi dari tujuan pengajaran?
C. Apa tujuan dari pengajaran?
III. PEMBAHASAN
A. Definisi Pengajaran
Terdapat tiga pendapat dalam pendefinisian pengajaran, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan sama dengan pengajaran, ada juga yang berpendapat bahwa pendidikan lebih luas dari pada pengajaran dan pendapat terakhir mengatakan bahwa pengajaran merupakan usaha pengembangan aspek jasmani dan akal saja, sedangkan pendidikan mencakup mengembangan aspek ruhani. Pengajaran lebih bersifat teknis, sedangkan pendidikan lebih bersifat normatif.
Menurut pendapat Sikun Pribadi guru besar IKIP Bandung, Pengajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata, yaitu supaya anak lebih banyak pengetahuannya lebih cakap berfikir kritis, sistematis, dan objektif, serta terampil dalam mengerjakan sesuatu. Misalnya: terampil membaca, menulis, lari cepat, loncat tinggi, membuat pesawat radio, dan lain sebagainya.
Pengajaran sering dikonotasikan sebagai proses aktifitas belajar-mengajar dikelas, yang tentunya bersifat formal. Kelas pengajaran tidak hanya diartikan terbatas ruangan dengan ukuran tertentu yang permanen untuk berlangsungnya belajar mengajar. Pengertian kelas harus dikonotasikan sebagai suatu sistem yang tidak terbatas ruangan atau bagian dari bangun sekolah, tetapi kelas merupakan wadah berlangsungnya pengajaran baik dalam ruangan yang biasa dipakai, maupun diluar ruangan seperti lapangan, dan sebagainya.
Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik di dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas pengembangan yang harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tesebut, mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun masyarakat.
B. Taksonomi Tujuan Pengajaran (Bloom dan Gagne)
Robert M. Gagne mengklasifikasi kondisi-kondisi belajar dengan mendasarkan pada tujuan-tujuan belajar yang hendak dicapai. Artiny amasing-masing tujuan belajar mensyaratkan kondisi-kondisi belajar tertentu bagi pencapainnya. Gagne mengemukakan 8 macam kemampuan manusia sebagai hasil belajar yang adalah kondisi belajar (sistem lingkungan belajar). Tetapi dari 8 macam itu dapat disederhanakan menjadi 5 macam: ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, ketrampilan motorik, sikap dan nilai.
1) Informasi verbal, yang dimaksud ialah pengetahuan yang dimilki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan dan tertulis.
2) Ketrampilan intelektual, yang dimaksud ialah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidupdan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang (huruf, angka, kata, gambar)
3) Strategi kognitif, mencakup pengguanaan konsep dan kaidah yang telah dimiliki, terutama bila sedang menghadapi problem, dengan dapat menyalurkan dan mngarahkan aktivitas kognitif sendiri.
4) Ketrampilan motorik, yakni kemampuan melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak berbagai anggota badan secara terpadu.
5) Sikap, merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan dan bertindak.
Menurut Benjamin S. Bloom tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
1. Ranah kognitif
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).
a) Pengetahuan (Knowledge)
Mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah, prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yan disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
b) Pemahaman (Comprehension)
Mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain.
c) Aplikasi (Application)
Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus yang konkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan no. 2, karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk menerapkannya terhadap suatu kasus atau problem baru.
d) Analisa (Analysis)
Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga terstuktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemepuan ini dinyatakan
e) Sintesa (Shyntesis)
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga tercipta suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana, seperti penyusunan satuan pelajaran atau proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema dasar sebagai pedoman dalam memberikan ceramah dan lain sebagainya. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan no. 4, karena dituntut krietria untuk mnemukan pola dan stuktur organisasi.
f) Evaluasi (Evaluation)
Mencakup kemempuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggung jawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu. Kemampuan ini dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu.
2. Ranah afektif
Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol. Pembagian domain ini dibagi menjadi lima tingkatan yaitu:
a. Penerimaan (Receiving)
Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsangdan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya.
b. Partisipasi (Responding)
Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan itu dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang disajikan.
c. Penilaian (Valuing)
Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu, merupakan penilaian yang berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
d. Pengorganisasian (Organization)
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai dan memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
e. Pembentukan pola hidup (Characterization by a value or value omplex)
Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemkian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri.
3. Ranah psikomotor
a. Persepsi (Perception)
Mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukkan kesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan perbedaan antara rangsangan-rangsangan yang ada.
b. Kesiapan (Set)
Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan mental.
c. Gerakan terpimpin (Guided response)
Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi).
d. Gerakan terbiasa (Mechanical response)
Mencakup kemampuan untuk melakuakan suatu ragkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih secukupnya, tanpa mempehatikan lagi contoh yang diberikan. Kemampuan inni dinyatakan dalam menggerakan anggota-anggota tubuh sesuai dengan prosedur yanng tepat.
e. Gerakan yang kompleks (Complex response)
Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu ketrampilan, yang terdiri atas beberapa komponen dengan lancar, tepat dan efisien. Adnya kemmapuan ini dinyatakan dalam suatau rangkaian perbutaan yang berurutan dan menggabungkan beberapa subketrampilan menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur.
f. Penyesuaian pola gerakan (Adjustment)
Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan persyaratan khusus yang berlaku. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menunjukkan suatu taraf ketrampilanyang telah mencapaia kemahiran.
g. Kreativitas (Creativity)
Mencakup kemampuan untuk melahirkan pola-pola gerak yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.
Taksonomi Robert Gagne tentang hasil belajar agak mirip dengan taksonomi Bloom: kognitif, afektif dan psikomotor. Keduanya percaya bahwa penting untuk mengklasifikasikan kemampuan belajar manuia ke dalam kategori atau domain. Taksonomi Gagne terdiri dari lima kategori hasil belajar - informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik.
C. Tujuan Pengajaran
Secara fungsional pencapaian tujuan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan tujuan pendidikan dalam suatu negara harus berdasarkan pada asas dan falsafah negara. Itulah sebabnya perubahan interaksi pengajaran selalu disifati dengan “edukatif”. Maksudnya dalam setiap terjadinya proses interaksi pengajaran yang bersentral pada tujuan pengajaran harus mendukung pada tujuan pendidikan.
Dalam setiap bentuk kegiatan atau interaksi pengajaran haruslah berorientasi pada tujuan. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan pada pencapaian tujuan. Maka, tujuan pengajaran harus berfungsi:
1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan akifitas atau interaksi pengajaran.
2. Menjadi penentu arah kegiatan pengajaran.
3. Menjadi titik sentral dalam penyusunan desain dalam pengajaran.
4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup pengajaran.
5. Menjadi pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan pengajaran.
Pancaragam tujuan dalam pengajaran dapat digambarkan sebagai sebuah kontinum yang merentang dari tujuan yang sangat umum ke tujuan yang sangat spesifik. Krathwohl dan Payne membagi tujuan pengajaran ke dalam tiga tingkatan: tujuan global atau umum, tujuan pendidikan dan tujuan instruksional.
Berikut rumusan-rumusan tujuan pengajaran umum: tujuan pengajaran umum (TUP), tujuan instruksional umum (TIU), dan tujuan pengajaran khusus: tujuan pengajaran khusus (TKP), tujuan instruksional khusus (TIK), secara rinci:
1. Bidang kemampuan intelek
1.1. Pengetahuan
1.1.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Tahu istilah-istilah umum
- Tahu hal-hal terinci
- Tahu metode dan prosedur
- Tahu konsep-konsep dasar
- Tahu prinsip-prinsip.
1.1.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Mendefinisikan
- Melukiskan
- Mengidentifikasi
- Memberi nama
- Membuat garis besar
- Menyatakan kembali
- Menyebutkan.
1.2. Pemahaman
1.2.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Memahami fakta dari prinsip
- Menginterpretasi bagan atau grafik
- Menginterpretasi secara lisan
- Merubah bahan tulisan kata-kata menjadi rumus
- Membenarkan metode dan prosedur.
1.2.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Merubah - Menyatakan secara luas
- Mempertahankan - Menarik kesimpulan umum
- Membedakan - Memberi contoh
- Memperkirakan - Menuliskan dengan kata-kata
- Menjelaskan - Menyimpulkan.
1.3. Penerapan
1.3.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menerapkan konsep dan prinsip terhadap situasi baru
- Menerapkan hukum dan teori pada situasi praktis
- Memecahkan persoalan-persoalan matematik
- Mengkonstruksi bahan dan grafik
- Mendemonstrasikan penggunaan secara benar metode/prosedurnya
1.3.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Merubah
- Menghitung
- Mendemonstrasikan
- Menemukan
- Mengerjakan dengan teliti
- Membuat modifikasi
- Menggunakan
1.4. Analisi (Analysis)
1.4.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Mengenali anggapan yang tidak dinyatakan
- Mengenali kesalahan logika dalam memberi alasan
- Membedakan antara fakta dan kesimpulan
-
1.4.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Memecahkan, mengurai
- Membuat diagram
- Membeda-bedakan
- Menarik kesimpulan
- Membuat garis besar
- Menunjukkan
- Mengidentifikasikan
- Menggambarkan
- Memisahkan
1.5. Sintesis
1.5.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menuliskan suatu tema yang tersusun baik
- Menulis suatu naskah pendek yang kreatif
- Mengintegrasikan pelajaran dari bebrbagai bidang ke dalam suatu rencana untuk memecahkan suatu masalah
- Merumuskan suatu bagan untuk menggolongkan obyek, kejadian-kejadian atau pikiran.
1.5.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Menggolong-golongkan
- Menggabungkan - Mengorganisir
- Menghimpun - Merencanakan
- Menyusun - Menuliskan kembali
- Menciptakan - Merevisi
- Menjelaskan - Membuat modifikasi
- Menyimpulkan - Menceritakan
1.6. Evaluasi (Evaluation)
1.6.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menimbang konsistensi yang logis dari bahasa tertulis
- Menimbang seberapa jauh suatu kesimpulan didukung oleh data
- Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan krteria intern
- Menimbang nilai suatu karya dengan menggunakan tatapan luar yang baik.
1.6.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Menilai
- Menyimpulkan
- Mengkritik
- Memperhitungkan kebenaran
- Menginterpretasikan
2. Bidang afektif
2.1. Kemampuan menerima
2.1.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Mendengarkan dengan perhatian
- Menunjukkan kesadaran akan pentingnya belajar
- Menerima berbagai kebiasaan
- Menerima dengan baik segala aktifitas kelas.
2.1.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Bertanya
- Mengikuti
- Memberi
- Berpegang teguh
- Mengidentifikasi
- Memilih atau menyeleksi
2.2. Kemampuan partisipasi
2.2.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Melengkapi pekerjaan rumah yang ditentukan
- Mentaati peraturan sekolah
- Ikut serta dalam diskusi-diskusi sekolah
- Menyukai dalam menolong orang lain.
2.2.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Menjawab
- Membantu
- Menghimpun
- Menyambung
- Menolong
- Mengemukakan
- Memberitakan
- Menuliskan
2.3. Penilaian/Penentukan sikap (Valuing)
2.3.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menghargai kepercayaan yang baik
- Menghargai peranan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari
- Menunjukkan sikap pemecahan masalah
2.3.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Membentuk
- Memprakarsai
- Mengajak
- Bekerjasama
- Mempertimbangkan kebenaran
- Bertukar pengalaman.
2.4. Organisasi (Organization)
2.4.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Mengenal perlunya keseimbangan antara kebersamaan dan tanggung jawab
- Mengenal peranan perencanaan yang sistematik
- Menerima tanggung jawab bagi perilakunya sendiri
- Merumuskan rencana kehidupan yang selaras dengan kemampuannya, perhatiannya dan keyakinannya.
2.4.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Mengikat
- Merubah
- Mengkombinasikan
- Membandingkan
- Melengkapi
- Mengorganisir
- Mempersiapkan
- Membuat sitesis
2.5. Pembentukan pola hidup
2.5.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menunjukkan kepercayaan diri untuk bekerja sendirian
- Mempraktekkan kerja sama dalam aktifitas kelompok
- Menggunakan langkah-langkah obyektifitas dalam pemecahan masalah
- Mempertahankan kebiasaan yang sehat.
2.5.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Mempengaruhi
- Mendengarkan
- Mempraktekan
- Mengusulkan
- Mencapai keahlian
3. Bidang Psikomotor
3.1. Persepsi
3.1.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menghubungkan rasa makanan dengan kebutuhan bumbunnya
- Menyelaraskan musik dengan gerak tarian tertentu.
3.1.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Memilih
- Mendeteksi
3.2. Kesiapan
3.2.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Mengetahui langkah-langkah dalam melicinkan kayu
- Mendemonstrasikan posisi badan yang tepat dalam memukul bola.
3.2.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Memulai
- Mempertontonkan
- Menjelaskan
3.3. Gerakan terbimbing
3.3.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Memukul bola golf sebagaimana telah didemonstrasikan
- Meletakkan plester pertolongan pertama sebagaimana telah didemonstrasikan.
3.3.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Memasang
- Membongkar
- Membedah
3.4. Gerakan terbiasa
3.4.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menulis rapi dan dapat dibaca
- Mendemonstrasikan langkah karya tarian sederhana.
3.4.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
( Serupa dengan daftar Respons Terarah)
3.5. Gerakan yang kompleks
3.5.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menggunakan gergaji listrik dengan terampil
- Mendemonstrasikan cara yang benar dalam berenang
- Mereparasi alat listrik dengan cepat dan tepat.
3.5.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
( Serupa dengan daftar Respons Terarah)
3.6. Penyesuaian pola gerakan
3.6.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menyesuaikan cara main tenis dengan cara penantang
- Merobah cara berenang sesuai dengan gelombang sama.
3.6.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Menyesuaikan
- Mengatur kembali
- Merevisi
- Memvariasikan
3.7. Kreatifitas
3.7.1. Istilah untuk TIU/TUP
- Menciptakan langkah tarian
- Menciptakan komposisi musikal.
3.7.2. Istilah kata kerja untuk TIK/TKP
- Mengatur
- Merubah
- Menciptakan.
IV. SIMPULAN
Pengajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata.
Menurut Benjamin S. Bloom tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan), yaitu: domain kognitif, afektif dan psikomotor. Dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Dalam setiap bentuk kegiatan atau interaksi pengajaran haruslah berorientasi pada tujuan. Tujuan pengajaran terbagi ke dalam tiga tingkatan: tujuan global atau umum, tujuan pendidikan dan tujuan instruksional. Masing-masing tujuan tersebut mengacu pada kemampuan belajar seseorang.
V. PENUTUP
Puji syukur kehadirat Allah Tuhan yang Maha Bijaksana atas segala nikmat dan karuniNya yang begitu agung, sehingga pemakalah bisa menyelesaikan makalahnya meski dengan tertatih-tatih. Pemakalah menyadari akan kekurangan dan kesalahan yang ada dalam makalah ini, oleh karena itu pemakalah sangat mengharapakan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca sekalian. Akhir kata, pemakalah mohon maaf atas segala kesalahan yang termuat dalam makalah ini.
Monday, 6 May 2013
PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu : Nikmah Rahmawati, M.Si
Oleh :
Nur I’anah (103211038)
Nur Indah Wardani (103211039)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
I. PENDAHULUAN
Psikologi perkembangan sebagai cabang ilmu psikologi menela’ah pelbagai perubahan intraindividual dan perubahan-perubahan interindividual. Bebrapa psikolog perkembangan mempelajari perubahan dalam perkembangan yang mencakup seluruh rentang kehidupan dari pembuahan sampai akhir hayat. Dengan begitu, mereka berusaha menggambarkan dengan sempurna pertumbuhan dan kemunduran. (Elizabeth B. Hurlock: 2002)
Mengutip dari apa yang dituliskan oleh Elizabeth B. Hurlock bahwa istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Dan seperti yang dikatakan oleh Van den Daele “perkembangan berarti perubahan secara kualitatif” (Elizabeth B. Hurlock: 2002). Berbeda dengan pertumbuhan, pertumbuhan merupakan perubahan secara kuantitatif dan itu mencakup aspek fisik atau jasmaniah saja yang dapat dihitung atau diukur.
Jadi, di sini pemakalah menyimpulkan bahwa pokok kajian dalam psikologi perkembangan adalah perubahan-perubahan yang terjadi dan secara pasti dialami oleh tiap individu dalam kehidupannya. Namun bahwa perubahan itu termanifestasikan dalam dua hal yakni pertumbuhan dan perkembangan, makalah ini hanya akan membahas seputar perkembangan dan prinsip-prinsipnya.
II. RUMUSAN MASALAH
Bertolak dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, berikut beberapa permasalahan yang dirumuskan dalam makalah ini:
1. Apa itu perkembangan manusia?
2. Bagaimanakah arti perubahan dalam perkembangan?
3. Apa sajakah prinsip-prinsip perkembangan?
III. PEMBAHASAN
A. Hakikat Perkembangan
Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi (Desmita: 2010). Namun, secara sederhana Sumadi Suryobroto menegaskan bahwa ‘perkembangan itu adalah perubahan, perubahan ke arah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan itu biasanya diberi nama proses. Jadi secara garis besar para ahli sependapat bahwa perkembangan itu adalah suatu proses’ (Sumadi Suryobroto: 1984).
Sejalan dengan Sumadi, menurut Reni yang secara langsung dikutip oleh Deswita bahwa ‘perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian’ (Reni Akbar Hawadi: 2001).
Pengertian perkembangan menunjukkan pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali karena perubahan nya bersifat kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal.
Pada dasarnya ada dua proses perkembangan yang saling bertentangan yang terjadi secara serempak dalam kehidupan, yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Keduanya mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Dalam tahun-tahun pertama pertumbuhan berperan, sekalipun perubahan-peruabahan yang bersifat kemunduran terjadi semenjak kehidupan janin. Pada bagian kehidupan selanjutnya, kemunduran yang berperan sekalipun pertumbuhan tidak berhenti (Elizabeth B. Hurlock: 2002).
B. Arti Perubahan dalam Perkembangan
Manusia tidak pernah statis. Semenjak pembuahan hingga ajal selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan fisik maupun kemampuan psikologis. Dengan perkataan lain, organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progresif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat dan pengalaman dan perubahan-perubahan itu mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk.
Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan berapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks.
Sekalipun perkembangan itu berkesinambungan, dalam arti bahwa perkembangan itu merupakan proses siklik dengan berkembangnya kemampuan-kemampuan dan kemudian menghilang, dan yang akan muncul kembali pada usia berikutnya. Dalam hal ini bukan berkesinambungan dalam arti senantiasa meningkat, tetapi merupakan serangkaian gelombang dengan seluruh bagian perkembangan yang tejadi lagi secara berulang. Dan seringkali pola perubahan itu mirip kurva berbentuk lonceng, pada awalnya naik dengan tiba-tiba, mendatar selama usia pertengahan, dan turun secara perlahan atau mendadak pada usia lanjut.
Pelbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri atau yang biasanya disebut aktualisasi diri adalah sangat penting. Namun tujuan ini tdak pernah statis. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat untuk dilakukan, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikologis.
Realisasi diri memainkan peranan penting dalam kesehatan jiwa, maka orang yang berhasil meneysuaikan diri dengan baik secara pribadi dan sosial harus mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara yang memuaskan dirinya. Tetapi pada saat yang sama harus menyesuaikan dengan standar-standar yang diterima. Kurangnya kesempatan-kesempatan ini akan menimbulkan kekecewaan dan sikap-sikap negatif pada khususnya terhadap orang lain, dan terhadap kehidupan pada umumnya.
Walaupun selalu terjadi perubahan-perubahan yang sifatnya fisik atau psikologis, banyak orang yang tidak sepenuhnya menyadarinya kecuali apabila perubahan-perubahan itu terjadi secara mendadak atau jelas mempengaruhi pola kehidupan mereka
Kebanyakan orang cenderung beranggapan bahwa masa lalu adalah lebih baik ketimbang masa kini. Sekalipun kebanyakan anak-anak mengejar saat mereka menjadi remaja belasan tahun, namun setelah tiba saatnya seringkali mereka merindukan kembali saat-saat mereka yang penuh riang di masa anak-anak.
C. Prinsip-prinsip Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia secara alamiah mengikuti pola teratur berdasarkan prinsip atau hukum perkembangan. Berikut beberapa prinsip perkembangan menurut para ahli, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Menurut Hurlock (1978)
Hurlock menyusun prinsip dasar psikologi perkembangan dengan 10 fakta, yaitu:
1) Perkembangan melibatkan adanya perubahan.
Karena tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan bawaan (genetik).
2) Perkembangan awal lebih penting dari pada perkembangan selanjutnya.
Lingkungan tempat anak hidup, selama tahun-tahun pembentukan awal hidupnya, mempunyai pengaruh yang kuat pada kemampuan bawaan mereka. Dasar awal sangat penting karena cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dari perilaku anak sepanjang hidupnya.
3) Perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan tmbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas bagi perkembangan.
4) Pola perkembangan dapat diramalkan.
Walaupun pola yang dapat diramalkan ini dapat diperlambat atau dipercepat oleh kondisi lingkungan di masa pralahir dan pascalahir.
5) Pola perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang dapat diramalkan.
Yang terpenting diantaranya ialah adanya persamaan pola perkembangan bagi semua anak; perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan terjadi secara berkesinambungan, berbagai bidang berkembangan dengan kecepatan yang berbeda; dan terdapat korelasi dalam perkembangan.
6) Terdapat perbedaan individu dalam perkembangan.
Perbedaan individu disebabkan oleh kondisi internal dan eksternal, akibatnya pola perkembangan akan berbeda untuk setiap anak. Contohnya:
perkembangan fisik, sebagian bergantung pada potensi keturunan dan sebagian pada beberapa faktor lingkungan.
Perkembangan kecerdasan, dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti kemampuan bawaan.
Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh faktor genetik selain dipengaruhi oleh sikap dan hubungan sosial.
7) Terdapat periode dalam pola perkembangan.
yang disebut periode pralahir, masa neonatus, masa bayi, masa kanak-kanak awal, akhir masa kanak-kanak dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan; serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku "bermasalah".
8) Prinsip kedelapan perkembangan adalah adanya harapan sosial untuk setiap periode perkembangan.
Harapan sosial ini berbentuk tugas perkembangan yang memungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasai berbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.
9) Setiap bidang perkembangan mengandung kemungkinan bahaya.
Bahaya ini berasal dari lingkungan sedangkan yang lain timbul dari dalam diri. Bahaya dapat mempengaruhi usaha penyesuaian fisik, psikologi dan sosial yang dilakukan seorang anak. - baik fisik maupun psikologis - yang dapat mengubah pola perkembangan.
10) Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode dalam pola perkembangan.
Studi mengenai kebahagiaan dimasa kanak-kanak telah mengungkapkan bahwa bagi beberapa anak, masa kanak-kanak adalah saat bahagia. Sedangkan bagi yang lain adalah masa yang tidak bahagia.
Tahun pertama kehidupan biasanya yang paling bahagia dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.
2. Hamalik (2004)
Adapun prinsip-prinsip perkembangan individu menurut Hamalik ada 7 dasar, yaitu :
1) Perkembangan sebagai fungsi interaksi antara organisme dengan lingkungan. Menurut aliran interactionist bahwa pembawaan menyediakan potensi-potensi yang berinteraksi dengan lingkungan yang dinamis.
2) Perkembangan berlangsung lebih cepat pada tahun-tahun permulaan. Perkembangan yang paling cepat terjadi pada tahun-tahun permulaan, tetapi perlu disadari bahwa perkembangan itu berlangsung seumur hidup. Sekalipun mungkin pola-pola kepribadian terbentuk pada usia sebelum sekolah, manifestasi sifat-sifat kepribadian mengalami perubahan selama manusia hidup.
3) Kematangan berpengaruh terhadap hasil-hasil latihan. Latihan dan pengajaran dapat berlangsung secara produktif jika pertumbuhan dalam diri individu kelak terjadi secara memadai, artinya otot, saraf dan otak harus berkembang dulu sampai tingkatan tertentu.
4) Pola-pola tingkang laku berkembang secara berurutan. Perkembangan adalah proses yang berlangsung secara teratur, selangkah demi selangkah. Setiap ketrampilan, sifat atau pengetahuan harus mempunya dasar-dasar yang mendahuluinya.
5) Laju perkembangan bersifat individual. Setiap individu memiliki laju perkembangan sendiri-sendiri. Beberapa anak mencapai kematangan lebih awal daripada anak-anak lainnya.
6) Perkembangan itu merupakan diferensiasi dan integrasi. Pertumbuhan fisik pada usia sebelum lahir merupakan gambaran yang jelas dari diferensiasi. Mula-mula bayi itu hana merupakan sebuah sel yang bulat. Kemudian pada usia 9 minggu, tatkala sudah menjadi embrio, bagian-bagian badan dapat dengan jelas dibeda-bedakan.
7) Perkembangan ketrampilan, konsep dan pengetahuan adalah contoh-contoh diferensiasi dan pengkhususan-pengkhususan. Adapun integrasi, yaitu tingkah laku yang terkoordinasi, harmonis, dan efisien terjadi bersama-sama dengan diferensiasi. Gambaran yang jelas dari integrasi antara lain tampak dalam berbicara. Seorang anak kecil mula-mula mengalami kesulitan untuk mengucapkan suatu kata. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, menjulurkan lidahnya keluar, dan kemudian ia mengucapkan suatu kata yang mungkin dapat kita pahami. Selanjutnya integrasi terjadi, dan ia menjadi seorang pembicara yang fasih tatkala ia mengucapakan kata-kata dibarengi dengan gerakan-gerakan tangan, ekspresi muka dan sebagainya.
3. Menurut Yusuf (2008)
Adapun prinsip-prinsip perkembangan individu menurut Syamsu Yusuf ada 6 dasar, yaitu :
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process).
Manusia secara terus-menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Perkembangan berlangsung secara terus-menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua.
2. Semua aspek perkembangan saling berhubungan atau saling mempengaruhi.
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, inteligensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan atau korelasi yang positif di antara aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemunduran dalam perkembangan aspek lainnya, seperti kecerdasannya kurang berkembang dan mengalami kelabilan emosional.
3. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahapan perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasarat bagi perkembangan selanjutnya. Contohnya, untuk dapat berjalan seorang anak harus dapat berdiri terlebih dahulu dan berjalan merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya,yaitu berlari atau meloncat.
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat)
5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
Prinsip ini dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:
A) sampai usia dua tahun anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik dan belajar berbicara,
B) pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain).
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan: bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan masa tua.
IV. SIMPULAN
Dari pemaparan makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Perkembangan merupakan perubahan secara kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral dan sosial.
2. Prinsip-prinsip perkembangan adalah pola-pola umum dalam suatu proses perubahan alamiah yang teratur, universal dan berkesinambungan, yang dimaksud dengan perubahan yang teratur adalah pertumbuhan pada manusia yang berjalan normal mengikuti tata urutan yang saling berkaitan.
3. Tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan
4. Prinsip-prinsip perkembangan pada umumnya antara lain :
a) Bahwa perkembangan melibatkan perubahan.
b) Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya.
c) Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
d) Pola perkembangan dapat diramalkan
e) Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan.
f) Terdapat perbedaan individu dalam berkembang.
g) Periode pola perkembangan. Periode perkembangan biasanya diebut periode pralahir, masa neonatus, masa bati, masa kanak-kanak, akhir masa kanak-kanak, dan masa puber.
h) Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial. Harapan sosial ini terbentuk tugas perkembangan yang menungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasaiberbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.
i) Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan potensial. Bahaya tersebut terjadi baik fisik maupun psikologis yang dapat mengubah pola perkembangan.
V. PENUTUP
Puji Tuhan yang telah menuntun dan memberkati penulis untuk menyusun makalah ini. Kelalaian dan kekurangan pastilah tidak luput dari makalah ini, maka tak ada ekspektasi mendalam dari pemakalah kecuali mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca yang budiman dan semoga naskah kecil ini bermanfaat besar. Akhir kata, beg us your pardon wal ‘afwu minkum.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan, terj. Istiwidayanti dan Soedjarwo, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.
Suryobroto, Sumadi. Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Rake Press,
المجال في علم البيان
(RUANG LINGKUP ILMU BAYAN)
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliyah: Balaghoh II
Dosen pengampu: Mahfudz shiddiq LC., MA
Disusun oleh:
Nur Indah Wardani (103211039)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
RUANG LINGKUP ILMU BAYAN
I. PENDAHULUAN
Ilmu balaghoh adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mengolah kata atau susunan kalimat bahasa arab yang indah namun memiliki arti yang jelas, selain itu gaya bahasa yang harus digunakan juga harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Para ahli balaghoh sepakat membagi ruang lingkup pembahasan ilmu balaghoh menjadi tiga ilmu yang masing-masing berdiri sendiri dengan pembahasannya, yaitu: ilmu ma’ani, ilmu bayan dan ilmu badi’.
Setelah semester lalu kita mempelajari kajian Ilmu balaghah yang mencakup bagian-bagian dari Ilmu Ma’ani, meliputi: pengertian Ilmu ma’ani, objek kajian dan manfaatnya, musnad dan musnad ilaih, kalam khabar, kalam insya, fashl, washl, qashr, ijaz, ithnab dan musawah. Pada kesempatan kali ini kita melanjutkan kajian Ilmu balaghah tahap selanjutnya, yakni Ilmu Bayan.
Ilmu bayan adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan suatu pesan dengan berbagai macam cara yang sebagian nya berbeda dengan sebagian yang lain, dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.
Sedangkan apa saja kajian yang dibahas dalam Ilmu bayan? Dalam makalah ini penulis akan membahas lebih lanjut mengenai ilmu bayan dan ruang lingkupnya. Semoga bermanfaat.aamiin
II. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini, akan dibahas beberapa rumusan masalah, yaitu:
A. Apa itu Ilmu Bayan?
B. Apa ruang lingkup Ilmu Bayan?
III. PEMBAHASAN
1. Pengertian Ilmu bayan
Asal kataالبيان dalam penggunaanya, menurut bahasa menunjukkan arti الانكشاف yang artinya membuka atau menyatakan, serta الوضوح (jelas). Dikatakan بان الشيئ يبين بيانا
Sedangkan التبين berarti الايضاح, berdasarkan pada firman Allah SWT (QS. Ibrahim, 4).
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”.
Sedangkan Al bayan menurut istilah Ilmu balaghah adalah:
اصول و قواعد يعرف بها إيراد المعنى الواحد بطرق مختلفة بعضها من بعض – فالمعنى الواحد هو يستطاع أداؤه باسالب مختلفة.
“Al-bayan adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan sebuah pikiran dengan cara yang bermacam-macam, yang dimaksud dengan Al-makna Al-wahid adalah satu pemikiran, namun dapat disampaikan dengan beberapa gaya bahasa”
2. Ruang Lingkup Ilmu bayan
Para Ahli balaghah, sepakat bahwa kajian dalam Ilmu Bayan, mencakup tiga hal, yaitu: (التشبيه)At-Tasybih (المجاز) Al-majaz dan (الكناية) Al-kinayah.
1) التشبيه (gaya bahasa simile(
Dalam kamus Al-munawir, lafad التشبيه berarti التمثيلdan dalam bahasa Indonesia berarti “persamaan”.
Sedangkan menurut istilah Ilmu balaghah:
التشبيه هو إلحاق امر بامر بادة التشبيه لجامع بينهما و إذا قلت "اخلاق عليٍّ كالنسيم في الرقة".
“Yaitu menyamakan suatu hal dengan hal lain dengan menggunakan perangkat (sarana) tasybih untuk mengumpulkan diantara keduanya”.
Secara etimologis, al-tasybîh berarti al-tamtsîl (penyerupaan). Sedangkan secara terminologis adalah menyerupakan antara dua perkara atau lebih yang memiliki kesamaan sifat (satu atau lebih) dengan suatu alat: karena ada tujuan yang dikehendaki oleh pembicara.
Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa sesuatu itu mempunyai kesamaan dengan yang lainnya dalam sifat, dalam menyamakan tersebut menggunakan sarana atau perangkat, baik secara eksplisit maupun implisit.
Rukun-rukun At-tasybih ada 4, yaitu:
a) Musyabbah (المشبة)
Sesuatu yang diperbandingkan.
b) Musyabbah bih (المشبة به)
Objek yang diperbandingkan.
Gabungan dari Musyabbah dan Musyabbah bih disebut tharafai tasybih (طرفي التشبيه).
c) Adat At-tasybih(أداة التشبيه)
Yaitu suatu lafadz yang menunjukkan adanya persamaan (antara dua hal atau lebih), serta mendekatkan musyabbah pada musyabbah bih dalam sifatnya.
Atau bisa dikatakan Sarana atau perangkat untuk menyamakan. Sedangkan Adat At-tasybih ada tiga macam: pertama dari huruf, yaitu: الكف dan كان, kedua: dari isim, yaitu, مثل, مشابة, نحو, مماثل dan ketiga: dari fiil, yaitu يماثل, يشابه, يضارع, يحاكى
d) Wajhu Asy-syabah(وجه الشَّبة)
Yaitu makna atau sifat yang dimiliki oleh musyabbah dan musyabbah bih atau Bentuk kesamaan sifat yang disamakan antara Musyabbah (المشبة) dan Musyabbah bih (المشبة به).
Atau bisa dikatakan Alasan yang disamakan. untuk lebih jelasnya amati contoh berikut ini: عليّ كالآسد في الجرأة
“Ali laksana harimau dalam keberaniannya”
عليّ sebagai Musyabbah, الآسد menjadi musyabbah bih, huruf الكف sebagai Adat At-tasybih dan في الجرأة keterangan dari Wajhu Asy-syabah.
Contoh At-tasybih dalam Al-qur’an adalah:
“ Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Huud: 42)
2) المجاز (gaya bahasa metafora)
Pengertian Majaz menurut istilah Ilmu balaghah:
المجاز هو اللفظ المستعمل في غير ما وضع له لعلاقة مع قرينة مانعة من إرادة المعنى السابق.
“Majaz adalah yang digunakan tidak pada tempatnya, karena ada keterkaitan serta alasan yang mencegah dari makna terdahulu”.
Macam-macam Majaz ada 2, yaitu:
a. Majaz ‘aqly
يكون في الاسناد, اي في اسناد الفعل او ما في معناه الى غير ما هوله
“Majaz Aqly adalah majaz yang terjadi pada penyandaran fiil pada fail yang tidak sebenarnya”.
مثال: بنى مدير الجامعة مسجدا
b. Majaz Lughawy
Pengertian majaz Lughawy menurut istilah adalah:
المجاز اللغوي هو كلمة استعملت في غير ما وضعت له لعلاقة مع قرينة تمنع من إرادة المعنى الحقيقيي
“Majaz Lughawy adalah kata yang digunakan tidak pada tempatnya, karena ada keterkaitan serta alasan yang mencegah dari makna hakiki”.
Adapun Pembagian Majaz Lughawy ada 2, yaitu:
1) Isti’arah (peminjaman kata)
الاستعارة هي مجاز علاقته المشابهة,
“Istiarah adalah majaz yang mempunyai hubungan langsung”
Konsep isti‘arah sebenarnya bermuara dari bentuk gaya bahasa tasybih, dan gaya bahasa isti‘arah adalah ungkapan tasybih yang paling tinggi. Menurut mayoritas ahli balaghah gaya bahasa isti‘arah mempunyai tiga unsur; 1) musta‘ar lah (musyabbah), 2) musta‘ar minhu (musyabbah bih), dan 3) musta‘ar (kata yang dipinjam). Contohnya:
كقوله تعالى: ••
"(ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (QS. Ibrahim: 1)".
Pada contoh kalimat diatas, lafadz majazinya adalah yang berarti kegelapan, dan yang berarti cahaya. Benarkah Al-qur’an dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan ke alam yang terang benderang? Tentu tidak, karena yang dimaksud Allah dalam firmannya bukanlah makna hakiki, melainkan makna majazinya, yaitu الضلالة, yang artinya kesesatan dan الهدى petunjuk.
Kata “nur” di sini dipinjam untuk memperjelas misi dan pesan kenabian, karena keduanya memiliki fungsi meyakinkan, menghilangkan, serta menepis keraguan atas kebenaran misi kenabian tersebut. Jadi maksud kata “al-nur” adalah kehadiran Nabi Muhammad saw.
2) Majaz Mursal.
مجاز المرسال هو مجاز تكون علاقة بين المعنى الحقيقة و المجازى قائمة غير المشابهة.
“Majaz Mursal adalah majaz yang hubungan antara makna hakiki dan makna majazi merupakan hubungan yang tidak langsung”
Contoh:
•
“dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' “ (QS. Al-baqoroh: 43)
Yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut adalah makna majazi, bukan makna hakiki, yaitu: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.
3) الكناية (gaya bahasa mitonimie)
Lafadz الكناية secara bahasa berbentuk mashdar, diambil dari fiil كنى يكني كنايةatau bias juga masdar dari fiil كنا يكنو كناية yang berarti menerangkan sesuatu dengan perkataan yang lain, mengatakan dengan kiasan, atau sindiran. Atau bisa dikatakan dengan:
الكناية بمعنى تكلمت بشيئ وا ردت غيره.
Sedangkan pengertian الكناية menurut istilah Ilmu balaghah adalah:
الكناية هو لفظ أطلق و أريد به لازم معنه مع جواز إرادة المعنى الآصلى
Artinya: lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang sebenarnya.
Contohnya:
نزلنا على رجل كثير الرماد
Artinya:” kita mampir pada seorang laki-laki yang banyak abu dapurnya”.
Dalam kalimat tersebut terdapat ungkapan كثير الرماد, yang berarti abu dapur, makna yang dimaksud dalam kalimat tersebut bukanlah makna sebenarnya, yakni abu dapur, tetapi makna lain yang menjadi kelazimannya. Makna Yang dikehendaki dari kalimat كثير الرماد adalah orang yang banyak abu dapurnya, kelazimanya banyak memasak, orang yang banyak memasak itu kelazimannya banyak menjamin makanan dan minuman, orang yang banyak menjamu tamu itu kelazimannya banyak tamu, orang yang banyak tamu kelazimannya baik hati, dermawan, kharismatik atau dihormati dan disegani.
Jadi untuk mengatakan bahwa seseorang itu dermawan, seseorang tidak mengatakan هو جود melainkan dengan kalimat هو كثير الرماد, suatu lakimat yang disampaikan namun yang dimaksud adalah makna lain, itulah yang dalam Ilmu bayan dinamakan Al-kinayah (الكناية).
Contoh kinayah dalam Al-qur’an:
• •
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”(QS. Al-Isra’: 29).
Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.
IV. KESIMPULAN
Pengertian Ilmu bayan adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan suatu pesan dengan berbagai macam cara yang sebagian nya berbeda dengan sebagian yang lain, dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.
Kajian dari Ilmu bayan adalah meliputi:
1. At-tasybih
Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa sesuatu itu mempunyai kesamaan dengan yang lainnya dalam sifat, dalam menyamakan tersebut menggunakan sarana atau adat, baik secara eksplisit maupun implisit.
2. Majaz
Majaz ‘Aqly
Majaz Aqly adalah majaz yang terjadi pada penyandaran fiil pada fail yang tidak sebenarnya.
Majaz Lughawy
Majaz Lughawy adalah kalimat yang digunakan pada kalimat lain yang mempunyai hubungan serta struktur yang mencegah dari makna hakiki.
Majaz Lughawy dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Isti’arah
Istiarah adalah majaz yang mempunyai hubungan langsung.
2. Majaz mursal
Majaz Mursal adalah majaz yang hubungan antara makna hakiki dan makna majazi merupakan hubungan yang tidak langsung.
3. Kinayah
lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada arti yang sebenarnya.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat disusun oleh penulis. Semoga dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan penulis sendiri. Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari banyak kekurangan di dalamnya, oleh karena itu penulis sangat mengharap kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah yang selanjutnya, terutama dari Bapak Mahfudz shiddiq selaku dosen pengampu mata kuliyah Balaghoh. Semoga makalah yang ringkas dan sederhana ini dapat memberikan manfaat. Aamiin
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hâsyimiy, Ahmad, Jawahir al-Balaghah fi al-Ma‘aniy wa al-Bayan wa al-Badi‘, Indonesia: Maktabah Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1960.
Alim, Ghufran Zainul, ,جواهر البلاغة Bandung: Sinar baru Al-gesindo, 2010.
Amin, Bakri Syaikh, al-Balaghah al-‘Arabiyah fi Tsaubiha al-Jadid al-Bayan, juz.II, Beirut: Dar ‘Ilm li al-Malayîn, 1995.
Idris, H. Mardjoko, Ilmu Balaghah antara Al-bayan dan Al-Badi’, Yogyakarta: Teras, 2007.
أبو هلال العسكرى, البلاغة العربية في ثوبها الجديد, بيرت: دار العلم, 1996.
أحمد قلاش, تيسير البلاغة, جدة: مطبعة الثغر, 1995.
فضل حسن عباس, البلاغة فنونها و افنانها, الاردان: دار الفرقان للنشر و التوزيع, 1987.
محمد ياسين بن عيسى الفادانى, حسن الصياغة, رمباغ: البركة, 2007.
Subscribe to:
Posts (Atom)