Fish

Sunday, 12 May 2013

Nahwu II

النعت الحقيقي والسببي MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Nahwu II Dosen Pengampu : Naifah, M.Si Disusun oleh : Nujumun Niswah (103211037) Nur I’anah (103211038) Nur Indah Wardani (103211039) FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011 النعت الحقيقي والسببي I. PENDAHULUAN Terkadang dalam penyebutan maupun penunjukkan suatu perkara terkesan masih umum, sehingga menimbulkan ke-ambigu-an dan oleh karena itu perlu disebutkan spesifikasi sifat dari suatu perkara tersebut. Dalam ilmu nahwu, sifat spesifik suatu perkara disebut dengan istilah na’at. Namun, sifat atau na’at dalam ilmu nahwu tidak terbatas untuk menjelaskan sifat dari suatu perkara, terkadang na’at berfungsi untuk menjelaskan suatu sifat dari hal lain yang masih bersangkutan dengan perkara tadi. Makalah nahwu kali ini berkenaan dengan pembahasan mengenai na’at dan seputarnya. Semoga dengan hadirnya makalah yang terbatas pembahasannya ini di hadapan para pembaca, bisa menambah pengetahuan para pembaca dan membuat semakin penasaran, sehingga menggugah minat para pembaca untuk menggali langsung dari sumbernya yang akurat. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian dari na’at? B. Apa saja macam na’at? C. Bagaimana contoh i’rob na’at? III. PEMBAHASAN A. Pengertian Na’at Dalam syarah Ibnu ‘Aqil disebutkan bahwa na’at adalah: التابع المكمل متبوعه ببيان صفة من صفاته أو من صفات ما تعلق به (Sesuatu yang ikut yang menyempurnakan pada yang diikuti dengan menjelaskan salah satu sifat dari sifat-sifatnya atau salah satu sifat dari sifat-sifatnya perkara lain yang masih berhubungan dengannya) Fungsi na’at secara global adalah untuk membedakan antara dua hal yang sama-sama isim, dan jika maushufnya berupa isim ma’rifat maka berfungsi untuk lebih menjelaskan dan jika berupa nakiroh maka untuk mengkhususkan . Pada dasarnya na’at disyaratkan harus berupa isim musytaq (yaitu isim fa’il, isim maf’ul, sifat musyabihat, mubalaghoh, dan isim tafdhil ), namun terkadang bisa juga berupa kalimat atau isim jamid yang ditakwil musytaq. Ada sembilan isim jamid yang ditakwil musytaq, yaitu: 1. Masdar, contoh: هُوَ رَجُلٌ ثِقَةٌ 2. Isim isyaroh, contoh:هَذَا أَكْرِمْ عَلِيًّا 3. ذو/ذات yang mengandung arti pemilik, contoh: جَاءَ رَجُلٌ ذُوْ عِلْم 4. Isim maushul yang memakai al, contoh: جَاءَ الرَّجُلُ الَّذِيْ اِجْتَهَدَ 5. Isim yang menunjukkan kuantitas man’ut, contoh: جَاءَ رَجُلٌ أَرْبَعَةٌ 6. Isim nasab, contoh: رَأَيْتُ رَجُلًا دَمَاوِيًّا 7. Isim yang menyimpan makna tasybih, contoh: رَأَيْتُ رَجُلًا أَسَدًا 8. ما isim nakiroh, contoh: أَكْرِمْ رَجُلًا مَا 9. كلّ/أيّ yang menunjukkan arti kesempurnaan maushuf dengan sifat, contoh: أَنْتَ رَجُلٌ كُلُّ الرَّجُلِ B. Klasifikasi Na’at Secara fungsional, na’at dapat dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni na’at haqiqi dan na’at sababi. 1. Na’at haqiqi Na’at haqiqi adalah ما يبين صفة من صفات متبوعه na’at yang menjelaskan salah satu sifat man’ut, atau merupakan na’at yang merofa’kan dlomir mustatir yang kembali pada man’utnya . Na’at haqiqi harus cocok dengan man’utnya dalam empat perkara dari sepuluh perkara, yaitu: 1) i’rob: rofa’, nashob, atau jer, 2) ma’rifat/nakiroh, 3) bilangan: mufrod, tasniyah, atau jama’, 4) mudzakkar/muannats, contoh: اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللِه مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun dikecualikan dari hukum tersebut empat macam na’at yaitu - Apabila na’atnya berupa masdar, maka hukumnya wajib mufrod mudzakkar, contoh: نُحِبُّ رَجُلًا عَدْلًا. - Na’at yang berupa isim sifat bewazan فَعُوْلٌ، فَعِيْلٌ، مِفْعَالٌ، مِفْعِيْلٌ، مِفْعَلٌ, maka lafadnya tetap baik man’utnya mudzakkar atau muannats, contoh: نَرْغَبُ عَن امْرَأَةٍ غَيُّوْرٍ. - Na’at untuk jamak yang tidak berakal, maka hukum na’atnya boleh dua versi, yaitu boleh jamak contoh: عِنْدِيْ خُيُوْلٌ سَابِقَاتٌ dan boleh mufrod muannats contoh: عِنْدِيْ خُيُوْلٌ سَابِقَةٌ. - Na’at untuk isim jamak, maka hukmnya boleh dua versi yaitu boleh jamak karena dilihat dari perspektif makna contoh: إِنَّ بَنيْ عُمَرَ قَوْمٌ صَالِحُوْنَ, dan boleh mufrod dilihat dari segi lafadnya contoh: إِنَّ بَنيْ عُمَرَ قَوْمٌ صَالِحٌ. 2. Na’at sababi Na’at sababi yaitu: مَا يُبَيِّنُ صِفَةً مِنْ صِفَاتٍ ما له تَعَلّقٌ بِمَتْبُوْعِهِ وارْتِبَاطٌ بِه "sesuatu yang menjelaskan sifat dari sifat-sifat yang berhubungan dengan matbu’nya atau berkaitan denganya". Atau menurut keterangan lain, na’at sababi adalah: تَابِعٌ يُذْكرُ لِبَيَانِ صِفَةٍ فِى شَيْئٍ مُرْتَبِطٌ بِالْمَنْعُوْتِ "na’at sababi adalah tabi’ yang disebutkan untuk menjelaskan sifat dari sesuatu yang berhubungan dengan man’ut”. Contoh: جَاءَ زَيْدٌ القَائِمَةُ أُمُّهُ (zaid yang ibunya berdiri datang) Jadi, na’at sababi adalah na’at yang maknanya tidak mengarah pada dzatnya man’ut secara keseluruhan, tetapi mengarah atau mensifati sesuatu yang berhubungan dengannya atau bagian dari man’ut. Syarat-syarat na’at sababi: a. Harus ada dlomir pada man’ut kedua yang merujuk kepada man’ut pertama, contoh: يُسْتَشَارُ الصَّدِيْقُ السَّدِيْدُ رَأْيُهُ b. Selalu mufrod baik saat tasniyah maupun jama’, tapi jika man’ut berupa jamak lebih baiknya dijama’kan dengan jama’ taksir, contoh: c. Apabila fail na’at itu muannas, maka na’at-nya di ta’niskan sekalipun man’utnya berupa mudzakkar, contoh: مرَرْتُ بِرجُلٍ حسَنَةٍ اُمُّهُ d. Apabila fail naat itu mudzakkar, maka na’at-nya di mudzakkarkan juga, sekalipun man’ut-nya berupa muannas, contoh: مرَرتُ بِامْرَأةٍ قائمٍ أبُوهَا e. Naat hanya memakai lafadz yang berbentuk mufrod, tidak boleh ditasniyahkan dan tidak boleh pula dijamakkan, contoh: جَاءَ احْمدُ القَائِمةُ امُّهُ (Fa’il lafadz القَائِمةُ adalah lafadz اُمُّهُ) Na’at dapat juga dibagi lagi menjadi tiga, yakni na’at mufrod, na’at jumlah dan na’at syibh jumlah . 1. Na’at mufrod adalah na’at yang tidak berupa jumlah ataupun yang menyerupainya, baik berupa isim mufrod, mutsanna atau jama’, contoh: فَازَ طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ 2. Na’at jumlah adalah na’at yang berupa jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyyah. Na’at yang demikian ditakwil sebagai isim nakiroh, sehingga jumlah hanya bisa menjadi na’at bagi isim nakiroh. Contoh: جَاءَ طِفْلٌ يَبْكِيْ Syarat jumlah bisa menjadi na’at: a. Harus berupa jumlah khobariyah (afirmatif), dan bukan berupa jumlah tholabiyyah b. Harus mengandung dlomir yang kembali pada man’ut. 3. Na’at syibh jumlah yaitu dhorof atau jer majrur yang menjadi na’at, contoh: لِلْحَقِّ صَوْتٌ فَوْقَ كُلِّ صَوْتٍ Apabila ada suatu isim yang disifati dengan na’at mufrod, dhorof, jer majrur dan jumlah, maka pada umumnya na’at yang berupa jumlah diakhirkan, contoh: وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَانَهُ (Qs. Ghofir: 28). C. Contoh I’rob Dari Na’at ۱) الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ الى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ الْمُؤْمِنُ : مبتداء مرفوع وعلامة رفعه الضّمّة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. القَوِيُّ : نعت له مرفوع، والنعت على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه الضّمّة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. خَيْرٌ : أفعل تفضيل، و يقال أيضا اسم تفضيل مرفوع بالضمّة الظاهرة. وَ : حرف عطف مبني على الفتح. أَحَبُّ : أفعل تفضيل معطوف على خير و علامة رفعه الضمّة الظاهرة. الى : حرف جر مبني على السكون. اللهِ : مجرور متعلق باسمي التفضيل، او باالثانى فقط وعلامة جره الكسرة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. مِنْ : حرف جر مبني على سكون. الْمُؤْمِنِ : مجرور و علامة جرّه الكسرة الظاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. الضَّعِيْفِ : صفة للمؤمن مجرورة بالتبعية وعلامة جره الكسرة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. ۲) يُسْتَشَارُ الصَّدِيْقُ السَّدِيْدُ رَأْيُهُ يُسْتَشَارُ : فعل مضارع مرفوع لتجرده عن الناصب والجازم، وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في اخره لأنه فعل مضارع صحيح الاخر ولم يتصل باخره شئ الصَّدِيْقُ : فاعله مرفوع، و علامة رفعه الضّمّة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. السَّدِيْدُ : نعت له مرفوع، والنعت على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه الضّمّة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. رَأْيُهُ : فاعل صفة مرفوع، وعلامة رفعه الضّمّة الظّاهرة في اخره لأنه اسم مفرد. الهاء ضمير بارز مبني على الضم يعود إلى الصَّدِيْقُ. IV. SIMPULAN  Na’at adalah tabi’ (sesuatu yang ikut) yang menyempurnakan pada yang diikuti dengan menjelaskan salah satu sifat dari sifat-sifatnya atau salah satu sifat dari sifat-sifat perkara lain yang masih berhubungan dengannya.  Na’at dapat dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni: - Na’at haqiqi, yaitu na’at yang menjelaskan salah satu sifat man’ut. Na’at haqiqi harus cocok dengan man’utnya dalam empat perkara dari sepuluh perkara, yaitu: 1) i’rob: rofa’, nashob, atau jer, 2) ma’rifat/nakiroh, 3) bilangan: mufrod, tasniyah, atau jama’, 4) mudzakkar/muannats - Na’at sababi adalah na’at yang maknanya tidak mengarah pada dzatnya man’ut secara keseluruhan, tetapi mengarah atau mensifati sesuatu yang berhubungan dengannya atau bagian dari man’ut. Na’at sababi harus cocok dengan man’utnya dalam dua perkara dari lima perkara, yaitu: 1) i’rob: rofa’, nashob, atau jer, 2) ma’rifat/nakiroh. Na’at dapat juga diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: - Na’at mufrod, yaitu na’at yang tidak berupa jumlah ataupun yang menyerupainya, baik berupa isim mufrod, mutsanna atau jama’. - Na’at jumlah, yaitu na’at yang berupa jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyyah. - Na’at syibh jumlah, yaitu dhorof atau jer majrur yang menjadi na’at. V. PENUTUP Alhamdulillah...Demikian makalah yang dapat pemakalah sajikan, dan dengan penuh kesadaran pemakalah meyakini akan adanya kekurangan bahkan kesalahan di dalamnya. Oleh karena itu, pemakalah sangat mengharapakan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sekalian untuk perbaikan makalah ini dan yang akan datang. Akhir kata, pemakalah memohan maaf atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada. Semoga bermanfaat. DAFTAR KEPUSTAKAAN ‘Aqil Bahauddin Abdullah Ibn, Syarah Ibnu ‘Aqil ‘ala Alfiyah, Semarang: Toha Putra, tt. Ghina, Ridlo Abdul, Athlas an-Nahwi al-‘Arobi, Kairo: Al Umniyah, 2000. Gholayaini, Musthofa Al , Jami’ud Durus al-‘Arobiyah, Kairo: Darul Hadis, 2005. Hakim, Taufiqul, Qoidati, Jepara: Al Falah Offset, 2003. Ismail, Muhammad Bakar, Qowa’idun Nahwi Bi Uslubil ‘Ashri, Kairo: Darul Manar, 2000. Muhammad, Syamsuddin, Ilmu Nahwu Terjemahan Mutammimah & Ajurumiyyah, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011. Qodamain, Ibnu, Risalatul Aqlam, Rembang:

No comments:

Post a Comment