Fish

Sunday, 12 May 2013

PERKEMBANGAN ISLAM MASA RASULULLAH

PERKEMBANGAN ISLAM MASA RASULULLAH I. PENDAHULUAN Kehidupan Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi kita semua. Kita sebagai umat beliau setidaknya dan sebisanya mampu meneladani atau meniru sikap beliau. Beliu adalah panutan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Tugas Rasulullah SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Catatan sejarah yang tak terbantah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar meraih sukses yang luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Makanya Michael H. Hart menyebutkan dalam bukunya yang terkenal Seratuh Tokoh yang Berpengaruh di Dunia menempatkan nama Muhammad pada urutan yang pertama. Maka dari itu makalah ini akan membahas lebih jauh sejarah perkembangan Islam pada masa Rasulullah hingga diketahui lebih jauh sepak terjang beliau dalam mengembangkan ajaran agama Islam. II. RUMUSAN MASALAH A. Bagaimana Keadaan Bangsa Arab Sebelum Islam ? B. Bagaimana Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW ? C. Periode Apa Sajakah Rasulullah SAW dalam Mengembangkan Dakwah Islam ? III. PEMBAHASAN A. Arab Sebelum Islam Kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan Islam, terutama disekitar Mekah masih diwarnai dengan penyembahan berhala sebagai Tuhan yang dikenal dengan istilah paganisme. Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Disamping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk yahudi imigran dan Madinah, serta agama Majusi (Mazdaisme), yaitu agama orang-orang Persia. Demkianlah keadaan bangsa Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam di tengah-tengah bangsa Arab. Masa itu biasanya disebut dengan zaman Jahililah, masa kegelapan dan kebodohan dalam hal agama, bukan dalam hal ekonomi dan sastra, karena dalam dua hal yang terakhir ini bangsa Arab mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mekah bukan hanya merupakan pusat perdagangan lokal, tetapi juga sebagai jalur perdagangan dunia yang penting saat itu, yang menghubungkan antara utara: Syam, dan selatan: Yaman, antara timur: Persian, dan barat: Abesinia dan Mesir. Dalam bidang sastra, pada masa ini sastra juga memiliki arti penting dalam kehidupan bangsa Arab, mereka mengabdikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang memperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz, Majinnah dan Majaz. Bagi yang memiliki syair yang bagus, maka diberikan hadiah dan mendapat kehormatan bagi suku atau kabilahnya serta syairnya digantungkan di Ka’bah yang dinamakan Al-Mu’allaq As-Sab’ah. Bangsa Arab juga dikenal suka berperang. Peperangan antar suku tidak pernah berhenti, saling berebut kekuasaan dan pengaruh merupakan kepahlawan yang dibanggakan. Namun dibalik semua itu, bangsa Arab sejak dahulu memiliki sifat ksatria, setia kepada kawan, dan menepati janji. B. Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW Kelahiran Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Sebab tahun tersebut dinamakan tahun Gajah, karena pada saat itu kaum kafir Quraisy menggempur Ka’bah dibawah pimpinan Abrohah dengan mengendarai Gajah. Ayah beliau bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah, ayahnya telah meninggal dunia ketika beliau masih dalam kandungan ibunya. Ketika usia beliau baru enam tahun ibunya meninggal dunia. Beliau kemudian diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib. Ketika beliau berusia 8 tahun, kakeknya meninggal dunia. Sehingga beliau diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib. Masa Remaja Nabi Muhammad SAW Pada tahun 584 M yaitu pada saat beliau berusia 14 tahun terjadi perang Fijar, beliau ikut dalam perang tersebut dan pada tahun 950 M terjadi perang Hiful Fudlul, beliau menjadi anggota perdamaian. Pada saat beliau berusia 25 tahun, beliau menikah dengan Siti Khatidjah. Siti Khatidjah meminang Nabi Muhammad dengan utusan Siti Nafisah, dan sebagai wali nikah Siti Khatijah ialah Amer bin Al As’ad. Ketika beliau berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy sedang membangun Ka’bah dan terjadi perselisihan antara kabilah tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula. Atas kesepakatan bersama beliau yang mendapat kepercayaan. Pada saat itu beliau mendapat gelar “Al-amin”. Awal Kerasulan Nabi Muhammad SAW Beliau menerima wahyu pertama kalinya di gua Hiro’ yang berada di Jabal Nur pada tanggal 17 Ramadhan 41 tahun Gajah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M. Wahyu yang pertama beliau terima termaktub dalam surat al-Alaq : 1-5. yang berbunyi :                          Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-Alaq : 1-5) Tidak berapa lama turun ayat yang mengandung perintah untuk berdakwah mengajak manusia, yaitu surat al-Mudatstir : 1-7 :                       Artinya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”. (QS. Al-Mudatsir : 1-7) Kalau surat al-Alaq merupakan penobatan kenabian beliau, maka surat al-Mudatsir merupakan penobatan kerasulan beliau. Jarak turunnya wahyu pertama dan kedua ini kurang lebih sekitar dua setengah tahun. C. Periode Dakwah Rasulullah SAW Periode Makkah Nabi berdakwah di Makkah sebelum hijrah ke Madinah selama ± 13 tahun yang beliau lakukan dengan tahapan : 1. Berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun Dengan cara ini masuk Islamlah Khatidjah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar as-Shiddiq, Zaid bid Harits. Setelah itu, masuk Islam pula Usman bin Affan, Zubaid bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, saad bin Abi Waqaf, Tolhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarroh, Fatimah binti Khattab dan suaminya, Said bin Zaid. Mereka inilah yang kemudian mendapat gelar As-Shabiqunal Awwalun. 2. Berdakwah secara terang-terangan Cara ini beliau lakukan setelah turunnya wahyu, dalam surat Al-Hijr ayat 94:        Artinya : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr : 94). Diantara penganiayaan orang kafir terhadap Nabi adalah : 1. Abu Jahal pernah akan melempar batu kepada Nabi, tapi dia tiba-tiba melihat seekor unta besar yang akan menyerangnya. 2. Uqbah bin Mu’id juga pernah akan mencekik Nabi ketika akan shalat, tetapi ketahuan Abu Bakar. Berbagai Tantangan yang dihadapi Nabi : 1. Tatkala beliau melihat penderitaan sahabatnya, maka beliau perintahkan mereka hijrah ke Habsyah. Maka hijrahlah 10 orang laki-laki dan 5 perempuan dipimpin oleh Usman bin Affan. Mereka mendapat perlindungan dari Raja Najashi yang akhirnya masuk Islam. 2. Pada tahun ke-10 Bit’sah atas perintah Nabi, para sahabat kembali hijrah ke Habsyah. Saat itu hijrahlah 83 orang laki-laki dan 18 perempuan dibawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib. 3. Pada tahun ke 7 sampai dengan 10, Bit’sah Nabi beserta sahabatnya di Blokade oleh orang-orang kafir Quraisy dalam bentuk : a. Memutuskan hubungan dengan nabi beserta keluarganya. b. Dilarang kawin dan dikawini oleh Nabi beserta sahabatnya. c. Dilarang jualbeli dengan Nabi beserta keluarganya. 4. Pada tahun ke-10 Bit’sah, istri Nabi, Khatidjah dan paman beliau tercinta Abu Thalib meninggal dunia, tahun tersebut dinamai, a’mul huzni atau tahun duka cita. 5. Beliau pernah hijrah ke Thoif bersama Zaid bin Harits. Periode Madinah Hijrahnya Rasulullah SAW Tatkala kota Makkah tidak lagi aman karena Nabi mendapatkan ancaman bahwa Nabi akan dibunuh dan akan dihabisi riwayat hidupnya. Nabi sendiri menunggu perintah hijrah langsung dari Allah Swt. Pada suatu malam para pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah Saw, agar mereka dapat membunuhnya bila mereka keluar. Pada saat malam itulah Rasulullah diperintahkan untuk hijrah, maka diaturlah siasat, yakni Ali bin Abi Thalib diperintahkan untuk tidur ditempat tidurnya dengan memakai mantel Nabi yang hijau dari Hadramaut. Keadaan itu diketahui pemuda Quraisy yang mengira bahwa Ali yang masih membujur ditempat tidur Nabi adalah Muhammad sehingga mereka merasa tenang. Tetapi ketika larut malam Nabi keluar tanpa diketahui oleh para pemuda yang siap menerkam mangsanya itu dan beliau menuju kerumah Abu Bakar. Dari situ Nabi menuju gua Stur di Selatan Makkah, yang berada disana 3 hari tanpa banyak diketahui orang kecuali Abdullah Ibnu Abu Bakar, Aisyah dan Asma’, serta pembantu mereka, Amir Ibnu Fuhairah. Ketika kaum Quraisy mencari Nabi dan sampai mulut gua Stur. Abu Bakar sempat panik dan khawatir kalau-kalau mereka melihat keduanya. Tetapi kafir Quraisy mengurungkan masuk kedalam goa karena adanya sarang laba-laba yang ada di mulut gua itu dan 2 ekor burung yang bertelur di jalan masuk. Dalam keadaan demikian itu turunlah ayat kepada Nabi yang berbunyi :       Artinya : "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." (QS. At-Taubah : 40). Nabi meninggalkan Makkah menuju Madinah bersama Abu Bakar pada tanggal 12 Rabi’ul Awal bertepatan tanggal 28 Juli 622 M. Nabi meninggalkan kota Makkah dengan berkata, yang artinya: “Demi Allah, engkau adalah sebaik-baiknya bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya aku tidak diusir, aku tidak akan meninggalkan kamu”. (HR. Imam Tirmidzi). Sebelum masuk ke Madinah, beliau singgah di Quba’ selama 22 hari dan beliau mendirikan masjid Quba’ yang merupakan masjid pertama dalam sejarah Islam. Nabi akhirnya sampai di Madinah dan untuk sementara dirumah Abu Ayyub Al-Anshory. Semenjak kedatangan Nabi kota ini diberi nama Al-Madinatul Munawwaroh yang semula bernama Yatsrib. Pembentukan Negara Madinah Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib (Madinah), Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Makkah, pada periode Madinah, Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis merupakan kepala negara. Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, beliau segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid, selain untuk tempat shalat juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiw mereka, di samping sebagai tempat bermusyawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Masjid pada masa Nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Kedua, mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin, Ketiga, perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin. Keempat, meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru. 1. Mendirikan Masjid Kurang lebih tujuh bulan lamanya Nabi Muhammad Saw bertempat tinggal di Madinah sampai mendirikan masjid dan rumah sendiri. Pada saat Nabi hendak mendirikan sebuah masjid, beliau bersabda kepada para ketua mereka, “Hai sekalian Bani Najjar, hendaklah kamu sekalian menerangkan harga sebenarnya dari kebun-kebun kamu kepadaku karena aku hendak membeli kebun-kebun itu”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak akan menghargai kebun-kebun itu kecuali pada Allah belaka”. Nabi tidak mau menerima jawaban mereka itu dan meminta kepada mereka supaya kebun-kebun dan tanah-tanah yang dikehendaki oleh beliau diberi harga, sekalipun dengan harga yang rendah, termasuk tempat yang digunakan untuk mengeringkan kurma kepunyaan kedua anak yatim yang bernama Sahal dan Suhail itu. Adapun tanah yang hendak ditempati untuk mendirikan masjid itu sebagian adalah kebun kepunyaan As’ad bin Zurarah, sebagian tanah kepunyaan kedua anak yatim tersebut dan sebagian tanah kuburan kaum Musyrikin yang telah rusak. Tanah kepunyaan kedua anak yatim itu dibeli oleh Nabi dengan hrga sepuluh dinar dan Abu Bakar r.a disuruh membayarnya. Adapun tanah kuburan lama serta tanah kepunyaan As’ad bin Zurarah hanya diserahkan dengan sukarela kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian tanah-tanah itu diperbaiki bersama-sama oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, pohon-pohonnya ditebang dan yang tadinya kuburan dibongkar serta dibersihkan, lalu semuanya diratakan, kemudian mereka bekerja bersama-sama mendirikan masjid. Ketika pekerjaan mendirikan masjid dimulai, yang meletakkan batu pertama adalah Nabi Muhammad Saw sendiri, kemudian beliau menyuruh Abu Bakar r.a supaya meletakkan batu yang kedua disebelah batu pertama yang diletakkan oleh beliau tadi. Lalu sahabat Umar r.a disuruh meletakkan batu yang ketiga disebelah batu yang diletakkan oleh Abu Bakar. Begitulah berturut-turut sampai kepada sahabat Utsman dan Ali. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda : “Mereka itulh khalifh-khlifah setelahku” Lalu, Nabi memerintahkan kepada para sahabat Muhajirin dan Anshar supaya masing-masing meletakkan batu bersama-sama. Selama mendirikan masjid ini, setiap Nabi mengangkat batu, beliau berpantun yang bunyinya : “ Barang bawaan ini bukan barang bawaan ke negeri Khaibar, tetapi ini lebih baik dan lebih bersih, ya Tuhanku” Lalu beliau bersyair pula yang bunyinya : “Ya Allah, sesungguhnya pahala itu pahala akhirat, maka ampunilah sahabat Anshar dan Muhajirin. Lepaskanlah mereka dari panasnya api neraka yang berkobar-kobar karena bahwasanya api itu bagi kafirlaki-laki dan perempuan” Dalam riwayat lain “Jika kami duduk termenung, padahal Nabi bekerja, yang demikian itu sungguh amal perbuatan yang tersesat dari kami”. Diriwayatkan bahwa para sahabat yang ikut bekerja, bila mereka mendengar ucapan-ucapan sajak yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw seperti yang tertera itu, mereka lalu menjawab dengan sajak pula yang bunyinya, “ Ya Allah, tidak ada kehidupan melainkan kehidupan di akhirat, maka kasihanilah kaum Muhajirin dan Anshar”. Ada pula yang bunyinya : “ Ya Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin”. Demikianlah seterusnya syair-syair itu dibaca atau diucapkan bersama-sama oleh Nabi dan sekalian kaum muslimin dalam pekerjaan mengangkat batu, meletakkan batu, menyusun batu, menyisipkan batu dan sebagainya. Beberapa hari kemudian, masjid itu selesai didirikan dengan amat sederhananya. Pagarnya terbuat dari batu-batu dan tanah, tiang-tiangnya terbuat dari pohon-pohon kurma, atapnya terbuat dari pelepah-pelepah pohon kurma, halamannya ditutup dengan batu-batu kecil, tingginya dibuat setinggi tegaknya manusia lebih sedikit, kiblatnya menghadap ke Baitul Maqdis (waktu itu perintah Allah supaya menghadap ke Baitullah belum diturunkan). Pintunya ada tiga buah, panjangnya tujuh puluh hasta dan lebarnya ada enam puluh hasta. Disisi masjid itu didirikan dua kamar untuk tempat tinggal keluarga Nabi, sebuah untuk Saudah dan lainnya untuk Aisyah. Masjid itu begitu sederhna, tidak dihiasi, tidak pula ditaruh tikar didalamnya dan pada malam hari digantungkan pelepah-pelepah kurma yang dinyatakan sebagai penerangan masjid itu. Setelah masjid itu selesai didirikan, pindahlah Nabi dari rumah Abu Ayyub ke rumah yang didirikan di sebelah masjid itu. 2. Membina persatuan dan persaudaraan kaum muslimin antara Anshar dan Muhajirin Dasar kedua adalah ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Nabi mempersaudarakan antara golongan Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin tersebut. Dengan demikian, diharapkan setiap muslim merasa terikat dalam suatu persaudran dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah ini berarti menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan darah. Sebagaimana telah tersebut dalam kitab-kitab tarikh dan kitab-kitab hadits bahwa setelah kurang lebih lima bulan lamanya Nabi Muhammad Saw. Berdiam di kota Madinah, maka untuk mengekalkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar atau dengan tegas kaum muslimin, pada suatu waktu beliau mengumpulkan mereka. Sesudah mereka berkumpul, beliau bersabda : “Hendaklah kalian bersaudara dalam agama Allah dua orang dua orang” Jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah persaudaraan di dalam agama Allah. Kemudian beliau bersabda lagi: “Hamzah bin Abdul Muthalib : Singa Allah dan singa pesuruh Nya bersaudara dengan Zaid bin Harits budak Rasulullah” Demikian Nabi lalu menyebut nama-nama sahabat-sahabatnya dari golongan Muhajirin dan Anshar supaya setiap dua orang bersaudara, seorang dari Muhajirin dan seorang dari Anshar. Pada saat itu, yang diperintahkan bersaudara ada seratus orang, lima puluh orang Muhajirin dan lima puluh orang Anshar. Diantara seratus orang tersebut adalah nama-nama yang disebut dibawah ini : 1) Ja’far bin Abi Thalib (Muhajirin) dengan Mu’adz bin Jabal (Anshar) 2) Abu Bakar ash-Shiddiq (Muhajirin) dengan Kharijah bin Zuhair (Anshar) 3) Umar bin Khattab (Muhajirin) dengan Itban bin Malik (Anshar) 4) Amir bin Abdillah (Muhajirin) dengan Sa’ad bin Mu’adz (Anshar) 5) Abdur-Rahman bin Auf (Muhajirin) dengan Sa’ad bin ar-Rabi’ (Anshar) 6) Zubair bin Awwam (Muhajirin) dengan Salamah bin Salamah (Anshar) 7) Utsman bin Affan (Muhajirin) dengan Aus bin Tsabit (Anshar) 8) Thalhah bin Ubaidillah (Muhajirin) dengan Ka’ab (Anshar) 9) Sa’ad bin Zaid (Muhajirin) dengan Ubaya bin Ka’ab bin Malik (Anshar) 10) Mush’ab bin Umair (Muhajirin) dengan Khalid bin Zaid (Anshar) 11) Abu Hudzaifh bin Utbah (Muhajirin) dengan Ubbad bin Bisyr (Anshar) 12) Ammar bin Yasir (Muhajirin) dengan Hudzaifah Ibnul Yaman (Anshar) 13) Abu Dzarr al-Ghiffari (Muhajirin) dengan Mundzir bin Amr (Anshar) 14) Bilal bin Rabah (Muhajirin) dengan Abu Ruwaihah (Anshar) 15) Salman al-Farisi (Muhajirin) dengan Abud Darda’ (Anshar). Inilah sebagian dari nama-nama sahabat Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan dalam agama Allah oleh Nabi Muhammad Saw yang tercatat dalam Sirah Ibnu Hisyam. Adapun maksud Nabi mengadakan persaudaraan itu adalah pertama, untuk melenyapkan rasa asing dari sahabat-sahabat Muhajirin di kota Madinah. Kedua, untuk membangkitkan rasa persaudaraan antara satu sama lain didalam agama Allah, yaitu bahwa semua orang Islam itu saudara. Ketiga, agar satu sama lainh saling tolong menolong, yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan dan sebagainya. Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka, agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan. Nabi Muhammad mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah piagam yang menjamin kebebasan orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dikeluarkan. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama dijamin dan seluruh anggota masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri golongan dari serangan luar. Dalam perjanjian itu jels disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala pemerintahan karena sejauh menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada beliau. Dalam bidang sosial, dia juga meletakkan dasar persamaan antar sesama manusia. Perjajanjian ini dalam pandangan ketatanegaraan sekarang sering disebut dengan Konstitusi Madinah. 3. Perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin Nabi Muhammad SAW hendak menciptakan toleransi antar golongan yang ada di Madinah. Oleh karena itu Nabi membuat perjanjian antara kaum muslimin dan non muslimin. Menurut Ibnu Hisyam, isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut: a. Pengakuan atas hak pribadi keagamaan dan politik. b. Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat. c. Adalah kewajiban penduduk Madinah,baik muslim maupun non muslim, baik hal moril maupun materiil. d. Rasulullah adalah pemimpin bagi penduduk Madinah. Kepada beliaulah dibawa segala perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan. 4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat alqur’an di turunkan dalam periode ini terutama di tujukan kepada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Rasulullah, baik dengan lisan maupun perbuatan beliau sehingga terdapat dua sumber hukum dalam Islam, yaitu alqur’an dan hadits. Dari kedua sumber islam tersebut didapat suatu sistem untuk bidang politik, yaitu sistem musyawarah. Dan untuk bidang ekonomi di titik beratkan pada jaminan keadilan sosial, serta bidang kemasyarakatan, diletakan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia, dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan. IV. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa: kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan Islam, terutama disekitar Mekah masih diwarnai dengan penyembahan berhala sebagai Tuhan yang dikenal dengan istilah paganisme. Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Disamping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk yahudi imigran dan Madinah, serta agama Majusi (Mazdaisme), yaitu agama orang-orang Persia. Selanjutnya Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Sebab tahun tersebut dinamakan tahun Gajah, karena pada saat itu kaum kafir Quraisy menggempur Ka’bah dibawah pimpinan Abrohah dengan mengendarai Gajah. Nabi berdakwah di Makkah sebelum hijrah ke Madinah selama ± 13 tahun yang beliau lakukan dengan tahapan: berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun dan berdakwah secara terang-terangan. Kemudian dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, Rasulullah segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid. Kedua, mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin, Ketiga, perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin. Keempat, meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru V. PENUTUP Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, sehingga pemakalah dapat menyelesaikan makalah ini dengan semaksimal mungkin. Dorongan demi tercapainya makalah ini, pemakalah meminta maaf atas kekurangan sempurnaan makalah, karena kesempurnaan milik Allah semata. Maka kritik dan saran dari rekan-rekan sangat pemakalah harapkan guna memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997. Munir Amin, Samsul, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2010. Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003. Moenawar, Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw, Jilid. II, Jakarta: Gema Insani Press, 2001.

No comments:

Post a Comment